Rotating X-Steel Pointer

Wednesday, 25 December 2013

SEJARAH PMII

Latar belakang pembentukan PMII

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir karena menjadi suatu kebutuhan dalam menjawab tantangan zaman. Berdirinya organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia bermula dengan adanya hasrat kuat para mahasiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlusssunnah wal Jama'ah. Dibawah ini adalah beberapa hal yang dapat dikatakan sebagai penyebab berdirinya PMII:
1.    Carut marutnya situasi politik bangsa indonesia dalam kurun waktu 1950-1959.
2.    Tidak menentunya sistem pemerintahan dan perundang-undangan yang ada.
3.    Pisahnya NU dari Masyumi.
Hal-hal tersebut diatas menimbulkan kegelisahan dan keinginan yang kuat dikalangan intelektual-intelektual muda NU untuk mendirikan organisasi sendiri sebagai wahana penyaluran aspirasi dan pengembangan potensi mahasiswa-mahsiswa yang berkultur NU. Disamping itu juga ada hasrat yang kuat dari kalangan mahsiswa NU untuk mendirikan organisasi mahasiswa yang berideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Tuesday, 17 December 2013

SINIS DAN SKEPTISISME


"Ketidaktahuan itu adalah Berkah"

          Manusia sering menganggap dirinya paling benar dan mengerti akan sesuatu termasuk mengerti akan bentuk kebenaran. Dalam menggali kebenaran ini banyak sekali teori-teori yang dapat memperkuat maupun memperlihatkan kelemahan yang ada pada sebuah gagasan kebenaran itu sendiri. Banyak filsuf maupun orang-orang yang suka berspekulasi dalam menemukan sebuah kebenaran yang dianggapnya "final" dibantah bahkan dijatuhkan dengan pertanyaan-pertanyaan ketidak percayaan terhadap apa yang telah dikemukakan filsuf tadi. Kebanyakan tujuan dari pertanyaan-pertanyaan serta ketidakpercayaan tersebut merupakan bagian untuk menguji apakah kebenaran dari filsuf sudah dapat dikategorikan mendekati kebenaran yang hakiki ataukah belum.
          Mereka-mereka inilah yang disebut dengan kaum sinis dan juga kaum skeptis. Kedua kaum ini sama sifatnya yakni tidak mempercayai akan sebuah kebenaran jika belum diuji kebnearan sesuai dengan apa yang mereka kehendaki. Kedua aliran ini mirip akan tetapi ada perbedaan yang sedikit mencolok. Kaum Sinis lebih bertujuan kepada kebenaran dalam kehidupan sosial sedangkan skeptis lebih menunjukkan bahwa kebenaran baik secara sosial maupun kebenaran dalam artian pendapat umum itu tidak ada.

Negeriku Berkembang, Namun Pendidikanku?

Oleh : Surya D E Putra
           Sesungguhnya bagaimana sih pendidikan yang sesuai dengan Indonesia? Apakah pendidikan yang cenderung monoton dan teksbook adalah andalan yang terus dipertahankan? Atau kita wajib mencoba formulasi-formulasi baru untuk mendapatkannya? atau cukup menunggu perubahan secara evolitif dari masyarakat Indonesia itu sendiri?
        
            Pertanyaan-pertanyaan diatas nampaknya sering muncul dibenak kita ketika menghadapi pola pendidikan yang ada di Indonesia ini yang seakan -akan hanya main-main. Sebagai bagian dari pengalaman penulis sendiri, Penulis telah merasakan bagaimana negeri ini bolak-balik melakukan perubahan kurikulum yang intensif sejak berlangsungnya reformasi 1998. Selama itu penulis merasakan 3 kali perubahan yakni ketika SD masih Kurikulum 96. Masuk SMP berubah menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), kemudian berubah lagi menjadi KTSP yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Nah, sekarang yang digodok dan dijalankan adalah Kurikulum 2013.

           Dari semua kurikulum yang ada, perlu kiranya kita kritisi bagaimana sesungguhnya rah dari tiap-tiap kurikulum itu. Kurikulum 96, nampak bahwa Kurikulum pendidikan ini sangat menekankan pada pelaksanaan dari yang namanya P4, yakni, Pedoman Pelaksanaan dan Pengamalan Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila itu dijadikan sebuah elemen dasar dalam melaksanakan pendidikan.

Bisakah Aku Menjadi Tuhan?

Oleh : Surya D E Putra
Ketika bertanya pada-Mu bagaimana Engkau ada, Engkau selalu memberikan nasihat pada sebuah tulisan indah pada naskah wahyu-Mu. Namun ketika banyak orang yang menanyakan keberadaan-Mu dan menyangsikan-Mu, Engkau membalasnya dengan sebuah azab yang cukup membuatku mengerti akan ada-Mu itu. Bukan maksudku untuk mempertnyakan-Mu yang transenden, tapi hanya untuk mengetahui seberapa jauh aku mengenal-Mu dan bagaimana aku setia dan taat pada-Mu. Ketika nalar berjalan dan bertanya bagaimana asal-usul dunia maka yang terjadi hanyalah sebuah argumentasi dangkal yang pertama aku tanyakan. Siapakah diriku ini? Aku darimana? Mengapa aku diciptakan? dan siapa penciptaku sesungguhnya? Kalau ada dzat yang lebih daripada eksistensi manusia maka seperti apakah wujud-Mu itu? Apakah aku bisa menjadi Tuhan seperti-Mu?

Pertanyaan tersebut hanyalah ungkapan ketika nalar mulai mencoba berpikir bagaimana esensialisme manusia mulai berjalan beriringan dengan eksistensinya. nalar mulai meraba bagaimana dan mengapa jalan hidup manusia tidak sepenuhnya bebas, apakah bebas itu memang terbatas? Sepertinya memang kebebasan itu ada batasnya. Ketika bertanya apakah diriku ini ada? maka jawabnya tentu aku ada. Kemudian aku bertanya darimana asalku? tentu akan terjawab dari orangtuaku yang merupakan bagian dari masa depan nenek moyangku yang sebelumnya telah hidup mendahului jamanku. Namun jika pertanyaannya mengapa aku diciptakan? Ini sungguh sulit untuk dijawab baik secara nurani maupun logika. Jika lebih daripada bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang dialami dan diilhami, sesungguhnya kita wajib kembali kepada konteks yang bernama ketuhanan dan keberagamaan. Karena disitulah kita mengerti dan mengetahui serta mendapatkan pengertian bagaimana tujuan hidup ini yang dijelaskan melalui wahyu-wahyu suci.

Saturday, 30 November 2013

KARYAKU

Penindasan
cipt. Faris Baiquni *Kader PMII Sunan Kalijaga Malang, Pengurus Badan Fungsional Sanggar Seni Budaya dan Musik An-Nashih

a..... a..... a..... a..... a..... a.... 
kami bersama  didalam kehidupan 
lawan penindasan  menuju jiwa yang mulia
tangan terkepal dan selalu maju kemuka
penindasan2x akan menjadi korban
penindasan2x  kami pasti melawan
pergerakan kami bukan omong belaka
pergerakan kami bukan untuk bergaya 
kami akan berbakti demi negeri ini 
kami akan berjuang bersama PMII
a... a..... a.... a... a....
back to *

download video



Friday, 29 November 2013

Pemikiran Paulo Freire

           Paulo fiere mengatakan bahwa di dunia ini terdapat “kaum penindas” dan “kaum tertindas”. Di brazilia kaum penindas adalah orang kaya, kaum elite dan penguasa yang otoriter sedangkan kaum tertindas adalah orang- orang miskin yang diangkap lemah dari segi ekonomi dan dianggap bodoh oleh orang kaya. Disini poulo freire mengibaratkan kaum tertindas dan kaum penindas dengan dunia pediidikan, maksudnya dengan pemakaian pedagogy banking  yang merupakan guru sebagai pendidik hanya mentransferkan ilmu pengetahuan ke siswa atau murid, sedangkan murid hanya bisa merima ilmu tanpa ada sebuah krtis dari murid. Hal ini murid ditekankan untuk melakukan apa yang dilakukan gurunya dan tidak boleh membantah dan guru merasa dirinya lebih mengerti dengan materi yang diajarkan, murid hanyalah orang lemah yang tidak tau apa-apa akan sebuah ilmu pengetahuan. Disini guru ssebagai subyek dan murid sebgai obyek yang dengan sengaja ditindas oleh ditindas.
            Pendidikan kaum tertindas adalah usaha Paulo Freire untuk membebaskan kaum tertindas terutama orang miskin yang dianggap lemah, bodoh tidak tau apa-apa. Usaha pertama yang dilakukan Paulo Freire adalah pendidikan buta huruf di brazilia dengan peserta orang dewasa. Disini Paulo Freire menekankan pengalaman orang dewasa sebagai media pebelajarannya dan dari pengalaman bisa menumbuhkan sikap kritis para buta huruf.

Thursday, 21 November 2013

MARS PMII

 (Mahbub Djunaidi)

Inilah kami wahai Indonesia 
Satu barisan dan satu cita 
Pembela bangsa penegak agama
Tangan terkempal dan maju kemuka
Habislah sudah masa yang suram 
Selesai sudah derita yang lama 
Bangsa yang jaya Islam yang benar 
Bangun tersentak dari bumiku subur

BURUH TANI

Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
Bersatu padu rebut demokrasi
Gegap gempita dalam satu suara
Demi tugas suci yang mulia

Hari hari esok adalah milik kita
Terciptanya masyarakat sejahtera
Terbentuknya tatanan masyarakat
Indonesia baru tanpa orba

DARAH JUANG


Disini negeri kami 
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Negeri kami subur, Tuhan


Di negeri permai ini 
Berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja

Wednesday, 20 November 2013

Program Kerja Biro Sosial dan Budaya



No
Nama Kegiatan
Sasaran
Jadwal Kegiatan
Sumber Dana
Ket
1
Baksos
LIGA khususnya rayon dan masyarakat setempat
Desember (setelah UAS)
Iuran
PJ: all member
2
Khotmil Qur’an
Semua warga rayon
1 bulan 1 kali, minggu ke-4
KAS

3
Batsul Masail

1 semester, 1 kali = november 2013 dan maret 2014




Program Kerja Bendahara


No
Nama Kegiatan
Sasaran
Jadwal Kegiatan
Sumber Dana
Ket
1
Pengadaan Kas
Semua warga rayon
September

minimal1000/ minggu
2
Pembukuan

Kondisional

1 bulan sekali
3
Pelaporan Keuangan

Kondisional


4
Memantau Keuangan Camp

Kondisional


Saturday, 9 November 2013

BERJUANGLAH PMII

Berjuanglah PMII berjuang 
Marilah kita bina persatuan 
Berjuanglah PMII berjuang 
Marilah kita bina persatuan
Hancur leburkanlah angkara murka
Perkokohlah barisan kita, Siap....

Sinar api Islam kini menyala
Tekad bulat jihad kita membara

Berjuang PMII berjuang
Menegakan kalimat tuhan 2x

HYMNE PMII

Bersemilah – bersemilah
Tunas PMII
Tumbuh subur – tumbuh subur
Kader PMII
Masa depan kita tempuh 
Untuk meneruskan perjuangan 
Bersemilah – bersemilah
Kau pahlawa bangsa

Sejarah Rayon PMII Al Biruni FIS UM




      Al Biruni adalah nama Rayon PMII Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang. Awal terbentuknya berasal dari pertanggungjawaban (amanat) Rapat Tahuhan Komisariat tahun 2009 yang mewajibkan PMII LIGA mendirikan rayon baru di Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK). Akan tetapi syarat untuk mendirikan Rayon harus ada 10 anggota PMII di suatu Fakultas, dan ini permasalahnya karena FIK anggota PMII tidak memenuhi syarat maka gagal mendirikan Rayon baru. Pada tahun 2009 lahirlah Fakultas Baru yang bernama Fakultas Ilmu Sosial. Menurut Ketua Komisariat saat itu, yakni Arif Rahman Hudaifi/ Cavalera dan Bidang 1 Wakidi, maka perlu adanya rayon baru di LIGA yakni dari FIS (menurut Pengakuan Cak CAVA) sebagai bentuk pertanggungjawaban atas gagalnya membentuk Rayon FIK.
        Proses Sosialisasi pun berjalan, Pro dan Kontra terjadi tidak dapat dihindarkan. Bagi yang Kontra, buat apa membuat Rayon Baru kalau hanya untuk menganti kewajiban/amanat RTK? Bagi yang Pro, dengan terbentuknya Rayon Baru maka sayap PMII akan semakin lebar dalam proses Kaderisasi terutam dd Fakultas Ilmu Sosial. Pada akhirnya semua paham, bahwa ini adalah proses meyakinkan dan mempercayai satu sama lain.
         Seingat saya (Cak Lukman) pada Rapat Tahunan Anggota Rayon (RTAR) Maturidi, saya berdebat dengan sahabat Fadjar Ahmad. Perdebatan adalah maukah kita dijadikan dalam satu rayon dan nama Rayon baru. Saya yang berasal dari Sejarah (masih Maturidi/Sastra) menginginkan nama rayon Soekarno karena beliau adalah Fouding Father Indonesia dengan jargon JasMerah (jangan sekali-kali meninggalkan sejarah). Sedangkan sahabat Fadjar Ahmad yang kelak menjadi ketua Rayon Pertama ingin nama rayon Abu Nawas karena beliau seorang Sufi. Setelah berjam-jam berdialektika/berdiskusi tidak menemukan nama yang pas, toh pada saat itu hanya ingin menyatukan Visi dan Misi dalam mendirikan rayon baru. Menurut saya, hal itu bagus, karena kita dapat mengetauhi sejauh mana kita mempunyai semangat mendirikan rayon di FIS.
      Setelah sosialisasi berjalan maka ada keputusan yang mengejutkan warga dilarang memilih di rayon masing-masing yakni warga sejarah di Maturidi (sastra), HKN di Ghozali (FIP) dan Geografi di Ibnu Sina (MIPA). Pelarangan ini sebenarnya melanggar hak warga untuk memilih karena belum tentu ada Rayon FIS (bahasa lebaynya) masa depan suram. Dengan legowo dari 3 rayon harus melepaskan warga yang berasal dari 3 jurusan ini, saya pun masih berat meninggalkan Maturidi karena saya di besarkan di sana.
          Langkah awal dimulai dengan dibentuknya Panitia RTAR FIS yang diketuai oleh sahabat Fadjar Ahmad. Akhirnya disepakati, kita rapat pada tanggal 23 s/d 25 April 2010 di rumah Bapak Shohib di daerah Jln. Soekarno Hatta dekat dengan RRI Kota Malang. Hari pertama masih belum banyak yang datang (maklum masih belum ada rasa memiliki). Hal itu membuat Komisariat berfatwa bahwa rapat dapat dilanjutkan jika sudah ada 10 anggota PMII FIS. Akhirnya trik jemput menjemput dijalankan oleh panitia dan pengurus komisariat yang bertanggungjawab atas warganya. Pada akhirnya rapat dilanjutkan dengan pemilihan Presidium Sidang dan yang terpilih adalah sahabati Uswatun Hasanah/ Uus ketua Rayon Ghozali 2010-2011, meskipun pemilihan ada intervensi sahabat Anisurahman (dulu ngicer sih ke sahabati Uus), biasa Romantika Pergerakan.
         Hari kedua adalah hari yang menentukan, karena pada hari ini di tentukan masa depan/rencana pembentukan Rayon baru. Setelah semua syarat terpenuhi, maka semua anggota menyatakan setuju didirikan Rayon baru. Setelah itu penentuan nama Rayon yang mana semua anggota FIS diberi kesempatan untuk mengusulkan nama dengan alasan yang jelas. Saya mengusulkan Soekarno, Fadjar Ahmad dengan Abu Nawas, Anisurahman dengan Ibnu Taimiyah, dan Imam Syafii dengan Al Biruni. Pemaparan dan berbagai alasan pun di jelasakan pajang kali lebar. Akhirnya dengan mayawarah mufakat, tanpa Voting, dipilihlah nama AL Biruni. Nama ini merupakan usulan dari Abah Kamilun imam Masjid Jami’ Kota Malang yang juga IKAPMII UM. Alasan ditetapkan Al Biruni, karena beliau merupakan Ulama ahli sejarah India, Negarawan dan pembuat peta pertama (geografi), jadi mewakili jurusan yang ada di FIS UM. Yang perlu dicatat adalah kelegowoan para sahabat dalam menentukan sebuah indentitas untuk masa depan.
         Hari terakhir adalah pemilihan ketua Rayon Al Biruni dimana calon ada 3 besar yakni Anis surahman, Imam Syafii dan Ahmad Fadjar. Pada pemilihan ini terpilihlah Fadjar Ahmad sebagai ketua Rayon pertama Al Biruni. Dengan terpilihnya beliau, maka era baru dalam mewarnai dinamika pergerakan mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial UM muncul dengan slogan THIS IS BIRUNI.[]

Malang, 9 November 2013
Editor: Syarif Dhanurendra