Rotating X-Steel Pointer

Friday, 29 November 2013

Pemikiran Paulo Freire

           Paulo fiere mengatakan bahwa di dunia ini terdapat “kaum penindas” dan “kaum tertindas”. Di brazilia kaum penindas adalah orang kaya, kaum elite dan penguasa yang otoriter sedangkan kaum tertindas adalah orang- orang miskin yang diangkap lemah dari segi ekonomi dan dianggap bodoh oleh orang kaya. Disini poulo freire mengibaratkan kaum tertindas dan kaum penindas dengan dunia pediidikan, maksudnya dengan pemakaian pedagogy banking  yang merupakan guru sebagai pendidik hanya mentransferkan ilmu pengetahuan ke siswa atau murid, sedangkan murid hanya bisa merima ilmu tanpa ada sebuah krtis dari murid. Hal ini murid ditekankan untuk melakukan apa yang dilakukan gurunya dan tidak boleh membantah dan guru merasa dirinya lebih mengerti dengan materi yang diajarkan, murid hanyalah orang lemah yang tidak tau apa-apa akan sebuah ilmu pengetahuan. Disini guru ssebagai subyek dan murid sebgai obyek yang dengan sengaja ditindas oleh ditindas.
            Pendidikan kaum tertindas adalah usaha Paulo Freire untuk membebaskan kaum tertindas terutama orang miskin yang dianggap lemah, bodoh tidak tau apa-apa. Usaha pertama yang dilakukan Paulo Freire adalah pendidikan buta huruf di brazilia dengan peserta orang dewasa. Disini Paulo Freire menekankan pengalaman orang dewasa sebagai media pebelajarannya dan dari pengalaman bisa menumbuhkan sikap kritis para buta huruf.
selain itu metode dialog dalam pengajaran sangat ditekankan supaya antara murid dan guru tidak ada perbedaan dalam pembelajaran, oleh karena itu murid dan guru saling belajar dalam menyelesaikan masalah dan didalam dialog terdapat sebuah sikap kritis yang dibangun oleh murid kepada guru untuk menguabh pendidikan gaya bank sebaliknya dengan antidialogis yang akan membunuh sikap kritis seorang murid dan murid hanya sebagai obyek pendidikan bukan subyek yang mengarah pada perubahan.
            Kaum tertindas adalah orang miskin dan kaum penindas adalah orang kaya. Hal ini pendidikan sebagai orang ketiga yang mau memihak kaum tertindas yang hidupnya penuh dengan kebudayaan bisu atau memihak kaum penindas yang merupakan kaum elite penguasa. Istilah kebudayaan bisu disini yaitu tertutupnya orang miskin untuk menyampaikan pendapat atau sebuah kritik mengenai apa yang dialaminya dan orang miskin sebagai kaum tertindas disini hanya menerima apa yang ada dan yang terjadi pada dirinya tanpa ada seuah pemikiran kritis. Kehidupan kaum miskin akan terancam,  apabila mereka kritis terhadap apa yang dialaminya.
            Pentingnya perubahan dalam pendididkan. Pendiddikan dapat mewujudkan harapan dan impian seseorang, maksunya dengan sebuah pengharapa dan impian membuat seseorang akan maju untuk merubah hidupnya serta berfikir terus untuk mengatasi belenggu kehidupan. Menurut Paulo Freire, tugas pendididk yang progresifadalah membuka kesempatan dan menumbuhkan harapan, mesikipun sanagt banyak hamabatan. Di dalam sebuah pengharapan bukan sebuah harapan semata melaikan butuh praktek untuk mewujudkan pengharapan mengarah yang lebih baik dan kritis. Pencapaian sebuah harapan tidaklah mudah karena membutuhkan perjuangan ekstra untuk mencapainya.
            Pembelajaran meurut Paulo Freire, pendidik tidak boleh hanya memindah ilmu pengetahuan dengan metode hafalan yang diberikan kepada murid, guru mengajar siswa untuk belajar bukan untuk menghafal. Hal ini akan mengembangkan dan mengubah diri seorang pendidik dan anak didik menjadi yang terbaik. Pengajaran disini menekankan pada kreatifitas dan kritis guru dalam pengajaran. Pembelajaran sekaligus menjadi konsientasi, penyadaran hidup, situasi siswa serta memajukan / mengubah hidup mereka. Terdapatnya dialog dan kerjasama antara guru dan murid oleh karrena itu perlu menciptakan bahasa lewat kehidupan dan pengalaman mereka sendiri lewat bahasa. Mereka bisa lebih mengenal dunia luar dan berkmbang
            Di dalam pemikiran Paulo Freire terdapat sanggahan mengenai kaum penindas dan kaum tertindas. Disini menurutnya Freire terlalu tertutup karena dia hanya beranggapan bahwa dunia ini hanya dilihat dari segi hitam putih yaitu kaum penindas dan kaum tertindas. Menurutnya seseorang tidak hanya menjadi kaum tertindas atau kaum penindas saja melainkan berperan sebagai penindas dan penindas.
            Pendididkan banking berarti ilmu pengetahuan ditransfer dari pendididik ke anak didik. Sistem pembelajaran ini yang mendominasi adalah guru murid hanya menerima tanpa ada sikap kritis. Dalam pendidikan bangking semua ilmu pengetahuan dikuasai oleh guru dan murid dianggap bodoh, tidak tau apa-apa. Lawan dari pendidikan banking adalah Pendidikan yang Menonjolkaan Masalah Sosial (PMMS) yang mengasumsikan bahwa murid-murid juga mempunyai ilmu pengetahuan walaupun mereka belum mengerti ilmu yang diketahui gurunya. Dan guru sebagai pendididk membimbing muridnya supaya sadar tentang masalah-masalah dalam dunianya dan mencari sendiri cara-cara untuk memecahkannya. Dalam  pembelajaran PMMS ini ru dan muridditekankan saling menghargai ilmu pengetahuan satu sama lain. Proses pendidikan tetap dipimpin oleh guru yang mempunyai ilmu pengetahuan lebih luas dan utuh daripada murid . PMMS dilaksanakan denagn metode dialog. pengajar menolong siswa mengkritik kenyataan truktural yang tidak adil. Teori ini dimulai dari pengalaman dan ilmu pengetahuan siswa sendiri.