Rotating X-Steel Pointer

Tuesday, 17 December 2013

Bisakah Aku Menjadi Tuhan?

Oleh : Surya D E Putra
Ketika bertanya pada-Mu bagaimana Engkau ada, Engkau selalu memberikan nasihat pada sebuah tulisan indah pada naskah wahyu-Mu. Namun ketika banyak orang yang menanyakan keberadaan-Mu dan menyangsikan-Mu, Engkau membalasnya dengan sebuah azab yang cukup membuatku mengerti akan ada-Mu itu. Bukan maksudku untuk mempertnyakan-Mu yang transenden, tapi hanya untuk mengetahui seberapa jauh aku mengenal-Mu dan bagaimana aku setia dan taat pada-Mu. Ketika nalar berjalan dan bertanya bagaimana asal-usul dunia maka yang terjadi hanyalah sebuah argumentasi dangkal yang pertama aku tanyakan. Siapakah diriku ini? Aku darimana? Mengapa aku diciptakan? dan siapa penciptaku sesungguhnya? Kalau ada dzat yang lebih daripada eksistensi manusia maka seperti apakah wujud-Mu itu? Apakah aku bisa menjadi Tuhan seperti-Mu?

Pertanyaan tersebut hanyalah ungkapan ketika nalar mulai mencoba berpikir bagaimana esensialisme manusia mulai berjalan beriringan dengan eksistensinya. nalar mulai meraba bagaimana dan mengapa jalan hidup manusia tidak sepenuhnya bebas, apakah bebas itu memang terbatas? Sepertinya memang kebebasan itu ada batasnya. Ketika bertanya apakah diriku ini ada? maka jawabnya tentu aku ada. Kemudian aku bertanya darimana asalku? tentu akan terjawab dari orangtuaku yang merupakan bagian dari masa depan nenek moyangku yang sebelumnya telah hidup mendahului jamanku. Namun jika pertanyaannya mengapa aku diciptakan? Ini sungguh sulit untuk dijawab baik secara nurani maupun logika. Jika lebih daripada bertanya kepada diri sendiri tentang apa yang dialami dan diilhami, sesungguhnya kita wajib kembali kepada konteks yang bernama ketuhanan dan keberagamaan. Karena disitulah kita mengerti dan mengetahui serta mendapatkan pengertian bagaimana tujuan hidup ini yang dijelaskan melalui wahyu-wahyu suci.


Ketika manusia dihadapkan pada masalah batin dan juga rasionalitas, maka manusia berusaha menjawab masalh-masalah tersebut secara "otodidak' dalam pencariannya. Sama ketika kita menanyakan siapa penciptaku? Bagaimana wujudnya? dan apakah aku bisa sepertimu?. Pencarian ini dapat kita temukan dalam setip firman-firman yang ada pada setiap ayat dari kitab-kitab agama. Namun benarkah setiap pernyataan yang termuat dalam kitab-kitab itu? Pantaskah dipercaya? Jika bagi pemeluk agama yang taat, jawabnya pasti ya. Akan tetapi ada persoalan yang esensial, dimana pemahaman akan Tuhan itu diperoleh dari warisan orang tua. Jika orang tua mengajarkan kepada anaknya, misalnya, solatlah nak agar Tuhan tidak memasukkanmu pada neraka!. Maka kesan yang ditanamkan oleh orang tua terhadap anakanya adalah Tuhan yang menakutkan, penyiksa dan pemberi hukuman. Nampak begitu bengisnya Tuhan ini. Sebaliknya, ketika orang tua mengajarkan sesuatu dalam konteks pahala, misalnya, berikanlah sedikit uangmu pada pengemis nanti akan digantikan uangmu dengan pahala yang lebih banyak. Hal ini memberikan asumsi bagaimana Tuhan dipersonifikasikan seperti bank, di mana ketika kita menabung kita mendapatkan bunga. Apakah manusia sematerialistik itu?

Kesalahan konsep sebenarnya tidak terjadi pada sesuatu yang dihadapkan pada sesuatu yang lain dan baru. Akan tetapi bagaimana kultur budaya dan pemahaman kita tentang yang transenden kurang mewadahi. Jika melihat bagaimana Erich Fromm berfikir tentang Tuhan, maka dia akan mengatakan bahwa manusia adalah wujud dari gambaran-gambaran Tuhan, dia (manusia) itu seperti Tuhan, tapi bukanlah Tuhan. Maksudnya disini adalah manusia sesungguhnya merupakan cermana bagaimana Tuhan itu berperilaku, berkehendak, dan bersosial. Akan tetapi tidaklah bisa menjadi layaknya Tuhan. Namun bagaimana manusia percaya Tuhan itu ada? Bagi Fromm, manusia tidaklah perlu mencari bagaimana Tuhan itu, cukuplah melakukan "sifat Tuhan" yang merupakan hukumn-Nya, maka dia sesungguhnya seudah mempercayai bagaimana Tuhan itu.