Rotating X-Steel Pointer

Tuesday, 17 December 2013

Negeriku Berkembang, Namun Pendidikanku?

Oleh : Surya D E Putra
           Sesungguhnya bagaimana sih pendidikan yang sesuai dengan Indonesia? Apakah pendidikan yang cenderung monoton dan teksbook adalah andalan yang terus dipertahankan? Atau kita wajib mencoba formulasi-formulasi baru untuk mendapatkannya? atau cukup menunggu perubahan secara evolitif dari masyarakat Indonesia itu sendiri?
        
            Pertanyaan-pertanyaan diatas nampaknya sering muncul dibenak kita ketika menghadapi pola pendidikan yang ada di Indonesia ini yang seakan -akan hanya main-main. Sebagai bagian dari pengalaman penulis sendiri, Penulis telah merasakan bagaimana negeri ini bolak-balik melakukan perubahan kurikulum yang intensif sejak berlangsungnya reformasi 1998. Selama itu penulis merasakan 3 kali perubahan yakni ketika SD masih Kurikulum 96. Masuk SMP berubah menjadi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), kemudian berubah lagi menjadi KTSP yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Nah, sekarang yang digodok dan dijalankan adalah Kurikulum 2013.

           Dari semua kurikulum yang ada, perlu kiranya kita kritisi bagaimana sesungguhnya rah dari tiap-tiap kurikulum itu. Kurikulum 96, nampak bahwa Kurikulum pendidikan ini sangat menekankan pada pelaksanaan dari yang namanya P4, yakni, Pedoman Pelaksanaan dan Pengamalan Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila itu dijadikan sebuah elemen dasar dalam melaksanakan pendidikan.
Namun setelah reformasi 1998, lima tahun kemudian kurikulum 96 mulai ditinggalkan karena alasan kurikulum tersebut sarat akan unsur politik dari zaman orde baru. Kemudian KBK di 2003. sempat ada harapan bahwa dengan adanya KBK ini diharapkan mampu mengangkat prestasi siswa dengan mengoptimalkan bagaimana ketrampilan dan kompetensi siswa yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dengan jalan lebih mengoptimalkan pendidikan sains. Efeknya adalah pendidikan moral dan juga agama serta kepribadian menjdai ditepikan. Hal ini membuat nilai-nilai moral bangsa yang sejak dahulu dipertahankan sedikit demi sedikit tergerus oleh modernisasi besar-besaran di awal abad 21. Jadi tidak mengherankan ketika banyak cap negatif dan juga plesetan kepanjangan nama pada kurikulum ini menjadi Kurikulum Berbasis Kegagalan.

           Kemudian di tahun 2006 sampai pertengahan 2013, Indonesia mengalami fase yang bisa dikatakan terburuk dalam manajemen pendidikan dan juga penyelenggarann pendidikan. Pada tahun ini seakan moralitas bukanlah hal yang sangat penting dan juga liberalisasi pendidikan pun merajalela. Hal ini dapat dilihat dari KTSP yang memeberikan kebebasan dan keleluasaan bagi penyelenggara pendidikan khususnya Sekolah untuk berkembang secara mandiri. Sehingga muncullah yang bernama Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Bertaraf Internasional. Efek yang nampak adalah mahalnya biaya pendidikan yang menyebabkan banyak sekali keluarga miskin tidak bisa memasukkan anaknya ke sekolah. Meskipun ada BOS (Bantuan Operasional Sekolah) nampaknya hal ini tidak serta merta membantu masyarakat miskin dalam menyelesaikan masalah keuangan di sekolah. Banyak oknum guru maupun pegawai sekolah yang melakukan pungutan liar dan memanfaatkan status sekolah sebagai lahan bisniswesternisasi baik dibidang keilmuan (seperti bahsa asing lebih dominan), budaya bahkan termasuk gaya hidup yang mulai meninggalkan nilai-nilai luhur yang berbasiskan local genius. Akibatnya bisa kita rasakan mulai tahun 2011-2013 ini dimana makin maraknya dekadensi moral mulai dari pejabat sampai dengan raktisi pendidikan termasuk siswa di dalamnya. Akibat semua itu muncul anggapan Kurikulum ini pun gagal mengawal dan melaksanakan pendidikan di nusantara. Muncullah olok-olok atas singktan-singkatan pada kurikulum ini menjadi Kurikulum Tak Satupun Pakem dan RSBI menjadi Rintisan Sekolah Bertarif Internasional.
          Karena mengacu pada perkembangan global, efeknya adalah Menggelitik bukan? Untuk kurikulum 2013 ini bagaimana peranan pemerintah dalam penyelenggaran pendidikan nasional? apakah berhasil atau tidak? ya kita tungu satu tahun penyelenggaraan kurikulum ini untuk kita evaluasi bersama.