Rotating X-Steel Pointer

Tuesday, 10 November 2015

REBUT KEMBALI KADAULATAN MAHASISWA


Setiap tahun pada tanggal 10 November, berbagai lapisan dinegara Indonesia diperingati Hari Pahlawan. Sebuah hari dimana kita merefleksikan kembali perjuangan-perjuangan para Pahlawan bangsa Indonesia yang telah mengobarkan semangat juang untuk Kemerdekaan Bangsa Indonesia, yang telah gugur dalam merebut dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Berbagai macam kegiatan kita lakukan berulang kali mulai dari upacara, karnaval-karnaval, konser yang bertemakan hari pahlawan sudah menjadi rutinitas bangsa Indonesia. Apakah hanya sampai disitu? Apakah hanya dengan berdiri berbaris kita merefleksikan hari yang sakral tersebut? Atau dengan berkeliling memakai kostum-kostum ala pahlawan? Atau bernyanyi dengan nyanyian-nyanyian sedih, menangis seperti melihat film korea? Kalau kita masih SD, SMP, maupun SMA kita pantas melakukan peringatan dengan cara-cara tersebut. Tapi jika mahasiswa, apakah cukup merefleksikan Hari Pahlawan dengan cara-cara tersebut? Apakah hanya sebatas itu kita memaknai Hari Pahlawan? Tentunya sebagai mahasiswa yang notabene mempunyai intelektual yang lebih dari masyarakat lain yang tidak memiliki kesempatan untuk belajar di Perguruan Tinggi, mampu memaknai Hari Pahlawan lebih dari sekedar apa yang dilakukan oleh orang lain.
Sebenarnya apa sih yang kita tahu tentang Hari Pahlawan? Apa yang kita maknai dari Hari pahlawan? Apakah hanya sebagai simbol? Atau semangat perlawanan yang mereka lakukan? Jika kita memaknai Hari Pahlawan sebagai simbol hanya untuk memperingati, maka pantas dan wajar jika kita merefleksikan Hari Pahlawan dengan upacara, karnaval, dan konser dengan tema pahlawan. Tapi jika kita memaknai Hari Pahlawan lebih dari sekedar memperingati, tetapi juga aksi dengan mewarisi “semangat pahlawan” mereka. Tentunya tidak hanya dengan kegiatan-kegiatan itu saja. Dengan adanya momentum tersebut seharusnya mahasiswa mampu bangkit dari kenyamanan dan kembali berjuang sebagai mana pahlawan. Ataukah mereka terlalu lama terjebak dengan kenyamanan dan hidup hedonism ala barat sehingga lupa akan tugas dan tanggung jawab mereka?
Persoalan-persoalan dalam kampus yang begitu komplek telah meng-kebiri mahasiswa sehingga menjadi mesin pencari ilmu, bukan sebagai mahasiswa yang sesungguhnya. Berangkat kuliah, pulang, mengerjakan tugas, membuat laporan, tidur, bangun, dan berangkat kuliah kembali dengan kebiasaan-kebiasaan yang hanya itu-itu saja. Tugas, tugas, dan tugas yang selalu merekah keluhkan.juga dengan UKT dan ditambah lagi dengan batasan kuliah hanya 5 tahun. Seolah memang system Pendidikan dinegeri ini disengaja untuk mematikan para mahasiswa, disengaja untuk merebut kedaulatan mahasiswa. Bahkan focus mereka bukan lagi untuk mencari ilmu, akan tetapi lebih focus untuk menyelesaikan tugas mereka yang dikejar deadline dan melupakan esensinya. Mereka lupa akan tanggung jawab lain seperti mengabdi kepada masyarakat, dan mengawal cita-cita Kemerdekaan Indonesia. Maka semakin jelas bahwa gerak mahasiswa sudah dibatasi, kebebasan mahasiswa sudah dikebiri,  dan tentunya kadaulatan mahasiswa telah direbut. Apakah kita sebagai mahasiswa hanya diam sami’na wa ato’na saja? Atau kita memang lupa dan tidak sadar dengan hal-hal tersebut? Atau kita pura-pura lupa dan tidak tahu? Sahabat-sahabat, dengan momentum Hari Pahlawan, mari sama-sama kita maknai dengan mewarisi semangat mereka, semangat perjuangan mereka, dengan merebut kembali kedaulatan kita sebagai mahasiswa, dan melaksanankan tugas dan tanggung jawab kita sebagai mahasiswa yaitu mengawal bangsa Indonesia untuk menggapai cita-cita Kemerdekaan Indonesia.

*Ahmad Sofi- {04-11-2015}