Rotating X-Steel Pointer

Wednesday, 30 December 2015

Foto RTAR FIS-I















Saturday, 26 December 2015

LOMBA ESAI DAN WORKSHOP JURNALISTIK

Download Formulir Pendaftaran Lomba Esai
Download Pedoman Lomba Esai
Download Lembar Pernyataan Orisinalitas Karya

Wednesday, 9 December 2015

KEMBALIKAN EKSISTENSI PANCASILA DI BUMI INDONESIA

Sehari setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tanggal 18 Agustus 1945, Pancasila secara formal ditetapkan sebagai dasar negara Indonesia. Sebagaiamana yang tercantum dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 Pancasila menjadi dasar negara Indonesia. Selain menjadi dasar negara, Pancasila juga dijadikan sebagai pandangan hidup bangsa. Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa mengandung makna bahwa Pancasila dijadikan pedoman dalam bertingkah laku bagi bangsa Indonesia, setiap perilaku warga negara haruslah dijiwai oleh nilai-nilai Pancasila. Dengan demikian, bangsa Indonesia mempunyai kepribadian dan jati diri yang berbeda dengan bangsa yang lainnya yang kemudian akan membentuk karakter bangsa Indonesia, yaitu karakter Pancasilais.
            Seiring dengan perkembangan zaman, eksistensi Pancasila semakin dipertanyakan. Masuknya arus globalisasi dengan kebudayaan-kebudayaan luar yang kurang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila terus menerus merong-rong organ Pancasila dalam kehidupan bangsa Indonesia. Tatkala masyarakat lebih menyukai produk-produk luar negeri, berpenampilan sesuai dengan budaya luar negeri, berbicara dengan bahasa-bahasa asimg di kehidupan sehari-hari, dan lain sebagainya, Pancasila semakin terasingkan keberadaannya.
Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang wajar apabila kita tetap berkaca dengan pedoman Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang mana setiap insan Indonesia tertanam didalamnya jiwa-jiwa Pancasilai. Akan tetapi berbandiung terbalik jika insan Indonesia tidak lagi memiliki jiwa Pancasila, hal ini tentu akan menjadi sesuatu yang sangat “lumrah”. Sehingga muncul pertanyaan besar, masihkan Pancasila menjadi satu kesatuan dengan jiwa dan cara berpikir bangsa Indonesia di era globalisasi ini?
Dewasa ini, nilai-nilai Pancasila terus menerus tergerus oleh arus globalisasi. Pancasila hanyalah dianggap sebagai simbol negara. Sehingga bukan sesuatu yang aneh apabila da kebudayaan baru dari luar yang masuk ke Indonesia, dengan serta merta mereka terima begitu saja tanpa menyaring kebudayaan itu dengan nilai-nilai Pancasila. Hal tersebut menjadikan fenomena gaya hidup bangsa yang kebarat-baratan, bahkan sampai menimbulkan gaya hidup hedonis, materialis, dan bahkan konsumeris. Tanpa kita sadari banyak hal-hal yang dulunya merupakan suatu hal yang tabu, kini menjadi sesuatu yang lumrah dan dengan mudah dilakukan oleh setiap orang. Hal ini mencerminkan bahwa Pancasila dalam jiwa bangsa Indonesia.
Tidak sampai disitu, globalisasipun membawa dampak dalam kehidupan bernegara di Indonesia antara lain munculnya konflik peperangan antar suku, tragedi daerah-daerah yang ingin memisahkan diri, masuknya aliran-aliran kepercayaan yang sesat, dan lain sebagainya. Sesungguhnya, semua persoalan di negara Indonesia dapat terselesaikan apabila bangsa Indonesia memiliki karakter bangsa yang mampu mengantarkan bangsa Indonesia ke gerbang kesejahteraan, karakter tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah karakter Pancasilais.
Indonesia terlalu sibuk memikirkan bagaimana kita meningkatkan perekonomian, bagaimana memaksimalkan SDA di Indonesia untuk kesejahteraan rakyat, bagaimana meningkatkan upah pekerja, bagaimana meningkatkan ekspor keluar negeri, hingga bagaimana merebut kekuasaan dalam kursi pemerintahan. Tidak dapat didpungkiri, hal tersebut memang penting, tapi kita lupa ada hal yang jauh lebih penting bagi kehidupan bangsa Indonesia kedepan, yaitu bagaimana menebarkan benih-benih jiwa Pancasilais hingga bisa tumbuh dan berkembang pada anak bangsa, sehingga anak bangsa kelak nantinya akan memiliki karakter Pancasilais, mengingat mereka merupakan pemegang tongkat estafet di masa mendatang, dan arah berlangsungnya Indonesia dimasa datangpun berada di tangan mereka.
Bukan sesuatu yang mustahil bila bangsa Indonesia akan dapat menyelesaikan persoalan-persoalannya dengan memiliki jiwa Pancasilais, karena sejatinya setiap persoalan kehidupan terdapat didalam nilai-nilai Pancasila. Pancasilais menjadikan bangsa Indonesia memiliki pendirian dan tidak mudah terombang-ambing oleh arus perkembangan zaman.
Ingatkah, bagaimana dulu para pendiri bangsa ini merumuskankan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa???  Mereka dengan keteguhan hati meyakini bahwa apabila bangsa Indonesia tetap memegang teguh nilai-nilai Pancasila  dan menumbuhkembangkan jiwa Pancasilais, maka akan “mengkover” bangsa Indonesia dalam menghadapi arus perkembangan zaman, karena kita memiki karakter pancasilais sebagai sebuah identitas bangsa. Identitas tersebut yang nantinya akan dijadikan sebagai tameng dalam menghadapi arus perkembangan zaman. Meskipun budaya-budaya baru dari luar berdatangan ke Indonesia, namun Indonesia mempunyai pendirian tentang identitas bangsa, bukan menutup diri dari arus perkembangan zaman, hanya saja yang tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila maka sudah menjadi kewajiban untuk menolaknya, sedangkan yang sesuai dengan nilai pancasila dapat diterima dengan tidak meninggalkan budaya sendiri.

Oleh karena itu, penting untuk kita sadari bahwa urgensi nilai-nilai Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa harus dapat kita tumbuh kembangkan lagi agar kita dapat mengubah negara dan bangsa kita melalui karakter Pancasilais. Bukankah benar kata pepatah, jika kita tidak bisa mengubah negara kita, maka ubahlah kota kita, jika kita masih saja belum bisa mengubah kota kita maka mulailah mengubah insan yang hidup di kota itu, dengan mengubah diri kita sendiri sebagai awalnya, kemudian menularkan kepada oranglain. Dari situlah tanpa kita sadari lingkungan yang kecil akan dapat mengubah lingkungan yang besar secara signifikan. Dengan demikian akan terciptalah bangsa Indonesia yang berjiwa Pancasilais. Seseorang yang Pancasilais tidak akan berlaku seenaknya sendiri memaksakan pendapatnya, seorang Pancasilais akan selalu menghargai dan menghormati agama dan kepercayaan orang lain, seseorang yang Pancasilais akan selalu berusaha untuk bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa harus menyakiti orang lain, seseorang yang Pancasilais tidak akan mempunyai sifat iri terhadap keberhasilan temannya, seseorang yang Pancasilais tidak akan sewenang-wenang dalam menjalankan kekuasaan, seseorang yang pancasilais tidak akan menghianati amanah yang telah diberikan oleh rakyat, seseorang yang Pancasilais tidak akan mudah terombang-ambing pengaruh dari budaya luar, seseorang yang pancasilais tidak akan merongrong negaranya sendiri, seseorang yang pancasilais akan berusaha mengutamakan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi, dan lain sebagainya. Apabila seluruh insan Indonesia yang berjiwa Pancasilais, maka bukan tidak mungkin permasalahan yang ada di Indonesia dapat terlesaikan. Sehingga sudah menjadi kewajiban kita sebagai generasi muda pemegang tongkat estafet negeri ini untuk senantiasa membudayakan jiwa Pancasilais. Karena sejatinya pancasila bukah hanya sebuah tulisan statis tanpa makna, bukan hanya sebuah  gambar garuda semata, tetapi lebih dari itu pancasila memiliki makna filosofis yang dalam bagi bangsa Indonesia, yang bersifat praktis dan harus diamalkan bagi seluruh rakyat Indonesia dan menjadi karakter serta identitas bangsa Indonesia.

Tuesday, 8 December 2015

STUDY PANCASILA: MENJADI MASYARAKAT MULTIKULTURAL


          Membahas mengenai masyarakat multikultural, adalah membahas mengenai sebuah masayarakat yang unik, karena masyarakat multikultural adalah masyarakat yang berbeda dengan masyarakat yang hanya menganut monokultur. Banyak masyarakat di dunia yang membentuk negaranya karena kesamaan kultur, namun ada juga negara yang memilih untuk membentuk negaranya dengan mengesampingkan perbedaan kultur yang ada, salah satu negara tersebut adalah Indonesia.
          Salah satu aspek yang penting dalam proses penataan bersama dalam masyarakat multikultural adalah budaya politik. Sebuah bangsa atau negara akan berkembang secara pesat dan sehat bila memiliki budaya politik yang sesuai dengan situasi masyarakat tersebut. Bentuk keanekaragaman budaya dalam masyarakat multikultural juga menuntut adanya budaya politik yang lebih sesuai dengannya. Sampai saat ini bentuk sistem demokrasi dinilai lebih sesuai dengan struktur masyarakat multikultural karena pemikiran demokrasi modern mensyaratkan agar seluruh rakyat bebas bersuara dan setara. Meskipun bukan sistem terbaik, namun sistem demokrasi dianggap lebih memadai bagi masyarakat multikultural dibandingkan sistem lain.
          Dalam masyarakat multikultural, terdapat berbagai macam suku, agama, keyakinan, nilai, cara berfikir dengan berbagai kepentingan di belakangnya. Bahkan seringkali berbagai kepentingan yang berbeda saling meminta untuk dipenuhi. Keanekaragaman tersebut yang seharusnya diakomodasi. Oleh sebab itu terlepas dari berbagai kekurangan dalam sistem demokrasi, sistem ini dianggap yang lebih baik bagi sebuah negara yang didalamnya terdapat berbagai macam etnis dan kebudayaan. Karena prinsip dari demokrasi adalah kebebasan dan kesetaraan, maksudnya dalam segala kebijakan publik di satu sisi harus senantiasa menjaga kebebasan, namun di sisi lain menjaga kestaraan, atau di satu sisi mengakui adanya keanekaragaman namun di sisi lain juga mengakui adanya kesetaraan.
          Selanjutnya jika terdapat pertanyaan mengenai bagaimanakah model demokrasi masyarakat multikultural maka jawabannya adalah bukan menggunakan konsep demokrasi ala Plato atau Aristoteles yang menyerahkan semua kedaulatan ke tangan rakyat, melainkan menggunakan sistem demokrasi modern yaitu demokrasi liberal yang berbasis perwakilan dan lembaga formal seperti partai, parlemen, pemerintah disertai dengan demokrasi deliberatif yang menuntut adanya pertimbangan dari rakyat yang menjadi subjek demokrasi.
          Dalam realitas budaya politik yang dianut oleh masyarakat Indonesia, Sistem demokrasi adalah yang dipilih bagi para pendiri negara Indonesia. Hal ini menjadi bukti mengenai kesadaran para pendiri negara, bahawa Indonesia adalah sebuah negara dengan latar belakang multikultur. Meskipun dalam perjalanannya sistem demokrasi yang dijalankan oleh pemerintah negara Indonesia mengalami pasang surut dan kadangkala mendapat tentangan dari kalangan yang antidemokrasi, namun sistem demokrasi masih menjadi sistem yang lebih cocok dalam menjembatani kondisi masyarakat Indonesia yang multikultur.
          Prof. Mahfud MD, menyatakan ada dua alasan dipilihnya demokrasi sebagai sistem bermasyarakat dan bernegara. Pertama, demokrasi dijadikan asas yang fundamental; kedua, Demokrasi secara esensial telah memberikan arah bagi perananan masyarakat untuk menyelenggarakan negara sebagai organisasi tertingginya. Karena dalam demokrasi adalah Pemerintahan dari rakyat (government of the people), Pemerintahan oleh rakyat (government by people), dan Pemerintahan untuk rakyat (government for people). Namun perlu diingat bahwa rakyat tidak diperbolehkan bertindak semaunya. Rakyat harus sadar dan bertanggung jawab terhadap kelangsungan kehidupan bangsa dan negara.
          Dalam penerapan sistem demokrasi di Indonesia sejak awal kemerdekaan hingga saat ini yang pasang surut, konsep demokrasi Pancasila dicetuskan, dan dinilai paling sesuai dengan nilai-nilai masyarakat Indonesia. Demokrasi Pancasila sepintas diartikan sebagai pemerintahan rakyat yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila. Atau pemerintahan dari, oleh, untuk rakyat yang dintuntun oleh lima sila pancasila. Selanjutnya Prof. Dr. Sri Soemantri (dalam Soedarsih, Adi: 2009) merumuskan demokrasi pancasila sebagai kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan yang mengandung semangat Ketuhanan yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradap, persatuan Indonesia, dan keadilan sosial.
          Ciri pokok dari Demokrasi Pancasla adalah penggunaan musyawarah dan mufakat  dalam pengambilan keputusan. Maksud dari musyawarah untuk mufakat adalah proses upaya bersama untuk mencari jalan keluar atau pemecaham suatu masalah yang menyangkut kepentingan bersama. Selain itu prinsip dari Demokrasi Pancasila Soedarsih, Adi (2009:120) menyatakan bahawa memperhatikan kepentingan semua golongan, lapisan masyarakat berbagai daerah, suku dan agama. Ia tidak berprinsip pada kemutlakan suara terbanyak yang dapat mengakibatkan tirani mayoritas, dan tidak mendasarkan pada kekuasaan minoritas yang mengakibatkan tirani minoritas.

Oleh: Mohammad Syahrul Mubarok

Monday, 7 December 2015

NDP PMII, HASIL ISRA’ MI’ROJ NABI

Kenyataan manusia sebagai makhluk Tuhan, dengan rasa kemanusiaanya mempunyai dua unsur yang saling melengkapi dan senantiasa bergerak dalam proses dialektis. Dua unsur tersebut yaitu unsur horizontal dan unsur vertical (Khaidir, 2006). Unsur horizontal meliputi interaksi manusia dengan manusia lainya, tanpa membedakan suku, agama, ras, dan juga interaksi manusia dengan alam sekitar. Sedangkan unsur vertical merupakan manifestasi dari penghayatan keagamaan, yaitu hubungan manusia sebagai makhluk dengan Sang Pencipta.
            Dalam unsur vertical, manusia disuguhkan dengan yang namanya agama, sebuah keyakinan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan (Tauhid). Dan pada puncaknya agama sebenarnya adalah pengejawantahan diri manusia untuk mengabdi kepada Tuhan (hablumminAlloh). Keyakinan dan pengabdian inilah yang disebut dialog vertical.
            Dalam realitas kehidupan, manusia tidak bisa lepas dari hubungan-hubungan dengan makhluk lainya. Terdapat suatu konsekuensi logis ketika manusia berhubungan dengan makhluk lain, yaitu menjaga hubungan dengan baik. Dan hubungan inilah yang disebut hubungan horizontal, yaitu hubungan manusia dengan manusia lain (hablumminannas) dan hubungan manusia dengan alam sekitar (hablumminal a’lam). Hubungan antar manusia ini dilandasi dengan dialog untuk mencapai saling pengertian, pengakuan akan eksistensi dan sifat dasar manusia. Tokoh filsuf Jerman, Martin Buber (1878-1965) dengan teori eksistensialisme-nya menjelaskan bahwa eksistensi manusia pada dasarnya adalah sama, yaitu berproses secara dialektis dalam mendambakan kesempurnaan eksistensi, pengakuan untuk saling menghormati, saling mengakui eksistensi manusia lain, keberadaan manusia yang diliputi rasa kemanusiaan atau yang biasa disebut memanusiakan manusia. Disisi lain manusia diciptakan ialah sebagai khalifah fil ardh, manusia diciptakan sebagai pemimpin yang bertanggung jawab di bumi, beranggung jawab dengan baik buruknya keadaan bumi. Karena dengan akal manusia mampu  merenofasi bentuk permukaan bumi (alam) dengan sangat mudah.
            Nabi Muhammad  SAW sepulang dari Isra’ Mi’raj membawa oleh-oleh yaitu perintah untuk shalat. Dalam terminologi Islam, shalat mempunyai arti doa. Dan shalat dilakukan dengan teknis-teknis tertentu dimana setiap gerak memiliki arti dan tujuan. Sebagai makhluk, shalat mempunyai arti suatu penghambaan, abdi kepada Tuhan. Sebagai doa, sholat mempunyai sisi lain yaitu dimensi kemanusiaan. Terminologi Islam menyebutkan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan munkar, “Inna sholata tanha ‘anil fahsa iwal munkar” (Q. S. Al-Ankabut: 45). Secara subjektif, jika manusia masih melakukan perbuatan keji dan munkar, berarti shalatnya masih dipertanyakan. Artinya, selain shalat termasuk ritual vertical manusia kepada Tuhan, shalat juga mempunyai dampak horizontal yaitu hubungan dengan makhluk lainya. Dengan kesimpulan bahwa dalam satu ibadah (shalat) mempunyai dampak yang sangat luas, juga berhubungan dengan Nilai Dasar Pergerakan di PMII itu sendiri. Dimana selain shalat bertendensi pada Tauhid dan hablumminAlloh, shalat juga termanifestasi makna hablumminnas dan hablumminal a’lam.

Oleh: Ahmad Sofiuddin