Rotating X-Steel Pointer

Monday, 7 December 2015

NDP PMII, HASIL ISRA’ MI’ROJ NABI

Kenyataan manusia sebagai makhluk Tuhan, dengan rasa kemanusiaanya mempunyai dua unsur yang saling melengkapi dan senantiasa bergerak dalam proses dialektis. Dua unsur tersebut yaitu unsur horizontal dan unsur vertical (Khaidir, 2006). Unsur horizontal meliputi interaksi manusia dengan manusia lainya, tanpa membedakan suku, agama, ras, dan juga interaksi manusia dengan alam sekitar. Sedangkan unsur vertical merupakan manifestasi dari penghayatan keagamaan, yaitu hubungan manusia sebagai makhluk dengan Sang Pencipta.
            Dalam unsur vertical, manusia disuguhkan dengan yang namanya agama, sebuah keyakinan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan (Tauhid). Dan pada puncaknya agama sebenarnya adalah pengejawantahan diri manusia untuk mengabdi kepada Tuhan (hablumminAlloh). Keyakinan dan pengabdian inilah yang disebut dialog vertical.
            Dalam realitas kehidupan, manusia tidak bisa lepas dari hubungan-hubungan dengan makhluk lainya. Terdapat suatu konsekuensi logis ketika manusia berhubungan dengan makhluk lain, yaitu menjaga hubungan dengan baik. Dan hubungan inilah yang disebut hubungan horizontal, yaitu hubungan manusia dengan manusia lain (hablumminannas) dan hubungan manusia dengan alam sekitar (hablumminal a’lam). Hubungan antar manusia ini dilandasi dengan dialog untuk mencapai saling pengertian, pengakuan akan eksistensi dan sifat dasar manusia. Tokoh filsuf Jerman, Martin Buber (1878-1965) dengan teori eksistensialisme-nya menjelaskan bahwa eksistensi manusia pada dasarnya adalah sama, yaitu berproses secara dialektis dalam mendambakan kesempurnaan eksistensi, pengakuan untuk saling menghormati, saling mengakui eksistensi manusia lain, keberadaan manusia yang diliputi rasa kemanusiaan atau yang biasa disebut memanusiakan manusia. Disisi lain manusia diciptakan ialah sebagai khalifah fil ardh, manusia diciptakan sebagai pemimpin yang bertanggung jawab di bumi, beranggung jawab dengan baik buruknya keadaan bumi. Karena dengan akal manusia mampu  merenofasi bentuk permukaan bumi (alam) dengan sangat mudah.
            Nabi Muhammad  SAW sepulang dari Isra’ Mi’raj membawa oleh-oleh yaitu perintah untuk shalat. Dalam terminologi Islam, shalat mempunyai arti doa. Dan shalat dilakukan dengan teknis-teknis tertentu dimana setiap gerak memiliki arti dan tujuan. Sebagai makhluk, shalat mempunyai arti suatu penghambaan, abdi kepada Tuhan. Sebagai doa, sholat mempunyai sisi lain yaitu dimensi kemanusiaan. Terminologi Islam menyebutkan bahwa shalat mencegah perbuatan keji dan munkar, “Inna sholata tanha ‘anil fahsa iwal munkar” (Q. S. Al-Ankabut: 45). Secara subjektif, jika manusia masih melakukan perbuatan keji dan munkar, berarti shalatnya masih dipertanyakan. Artinya, selain shalat termasuk ritual vertical manusia kepada Tuhan, shalat juga mempunyai dampak horizontal yaitu hubungan dengan makhluk lainya. Dengan kesimpulan bahwa dalam satu ibadah (shalat) mempunyai dampak yang sangat luas, juga berhubungan dengan Nilai Dasar Pergerakan di PMII itu sendiri. Dimana selain shalat bertendensi pada Tauhid dan hablumminAlloh, shalat juga termanifestasi makna hablumminnas dan hablumminal a’lam.

Oleh: Ahmad Sofiuddin