Rotating X-Steel Pointer

Saturday, 16 April 2016

PMII; Perwujudan Teologi Pembebasan di Tengah-tengah Entitas Masyarakat Indonesia*

PMII ada, hidup, dan menjadi bagian dalam entitas masyarakat. Artinya, eksistensi PMII tidak dipungkiri lagi berada di tengah-tengah masyarakat. Ini erat kaitannya dengan nilai dan identitas yang diusung oleh PMII. Bagi saya, PMII dibentuk oleh dua komponen utama dengan dua sifat yang khas sebagai nilai serta identitas diri. Kesemuanya itu seharusnya begitu memberikan penjelasan kepada kita, mengenai esensi organisasi pergerakan di tengah pergolakan sosial masyarakat.
Komponen itu merupakan ”Mahasiswa” dan ”Pergerakan”. Mahasiswa sebagai pelaku, penggerak, pejuang, dan sumber energi. Sedang pergerakan adalah ekspresi bagi dinamika warganya, baik dinamika intelektual, dinamika dialektika, maupun dinamika sosial masyarakat di sekitarnya. Pergerakan sebagai representasi semangat organisasi dalam menunjukkan tanda bakti kepada negeri. Aktivitas pergerakan ini dapat dilakukan dengan media Empat Pergerakan Mahasiswa: Membaca, Diskusi, Menulis, dan Turun ke Jalan. Tanpa pergerakan, bukan hanya menandai matinya dinamika organisasi, juga sebagai bukti tumpulnya kepekaan warga pergerakan terhadap fenomena-fenomena sosial di tengah-tengah masyarakat.
Mahasiswa dan Pergerakan. Dua komponen utama yang saling terikat dan didukung oleh dua sifat yang khas, yaitu ”Keislaman” dan ”Keindonesiaan”. Konsekuensi dari hal ini adalah, warga pergerakan bukan hanya melandaskan aktivitasnya pada nilai keIslaman, namun juga keIndonesiaan. Keislaman disini jelas menurut kerangka Ahlisunnah Waljama’ah. Sedang keIndonesiaan dalam konteks pergerakan, adalah nasionalisme. Nasionalisme di sini bukan melulu soal kedaulatan NKRI semata, yang seringkali dijadikan objek tabrakan dengan organisasi mahasiswa pendukung Khilafah Al-Islamiyah, organisasi mahasiswa yang kontra NKRI. Lebih dari itu. Makna nasionalisme ini (seharusnya) menyentuh hal-hal yang praksis. Hal-hal yang lebih konkret. Hal-hal yang lebih penting kita perjuangkan.
Pergerakan yang diperjuangankan oleh warga PMII bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat. Sesuai dengan bunyi tujuan PMII yang termaktub dalam pasal 4 AD/ART PMII, ”Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya, serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia”. Sekali lagi, dalam konteks pergerakan, tujuan PMII adalah memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Lalu apa cita-cita kemerdekaan Indonesia yang diperjuangkan oleh tidak hanya PMII, tapi semua pewaris kemerdekaan RI? Yaitu pada intinya menciptakan tatanan masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil, dan makmur. Ini adalah kata kuncinya. Tujuan pergerakan ini sesungguhnya bentuk yang paling konkret dari nasionalisme atau keindonesiaan yang menjadi ciri khas warga PMII.
Tujuan pergerakan juga diperkuat oleh sebuah landasan yang secara bersama-sama disepakati sebagai nilai dasar dalam bergerak yang dibakukan. Landasan tersebut ialah Nilai Dasar Pergerakan (NDP) yang berfungsi sebagai dasar berpijak, dasar berpikir, dan sebagai sumber motivasi. Salah satu poin dalan NDP yang sesuai dengan konteks perbincangan ini adalah hubungan manusia dengan manusia lainnya. Salah satu bentuk sederhananya adalah PMII terlibat aktif atau bahkan memprakarsai proses advokasi yang menyangkut kepentingan masyarakat umum. Secara sangat jelas, PMII sesungguhnya sebuah organisasi yang berlandaskan nilai sosialisme. Permasalahannya adalah sampai dimana implementasinya masih susah untuk saya (di) ukur. Artinya adalah, kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran masyarakat adalah layak diperjuangkan jika dibenturkan dengan NDP. Sekali lagi ingat, PMII ada, hidup, dan menjadi bagian dari entitas masyarakat.
Berdasarkan poin-poin di atas, dapatlah saya bandingkan pergerakan yang idealnya diusung PMII dengan pergerakan paham Teologi Pembebasan. Dimana sesungguhnya paham ini berdekatan juga dengan paham Marxisme. Teologi pembebasan, sejauh yang saya pahami, merupakan suatu gerakan yang berusaha membebaskan rakyat dari ketidakadilan dan ketidaksejahteraan berdasarkan panggilan rohani yang sifatnya mendalam. Sementara itu, Marxisme memiliki gerakan yang serupa. Soal isu pendepakan nilai agama dalam paham Marxisme masih memerlukan kajian yang lebih dalam. Beberapa penganut Marxisme justru menganggap agama adalah sebuah motivasi yang menjadi semangat dalam bergerak melakukan perlawanan.
Dua paham tersebut –Teologi Pembebasan dan Marxisme, sama-sama memperjuangakan ketidakadilan rakyat. Atas dasar persamaan nilai dan motivasi, marilah kita lebih melihat Teologi Pembebasan sebagai perbandingan dari PMII dengan Nilai Dasar Pergerakan yang dimilikinya. Teologi pembebasan banyak dilakukan oleh pemuka-pemuka agama, khusunya dari kalangan Kristen. Ini berkaitan erat dengan tempat lahir paham ini adalah negara-negara berpenduduk mayoritas Kristen. Akan tetapi, bukan berarti paham ini hanya monopoli Kristen. Paham ini dapat diterapkan sesuai dengan konteks lingkungannya, seperti nilai agama dan budaya yang berkembang. Motivasi pergerakan Teologi Pembebasan selain agama, juga kesadaran akan hak-hak untuk dapat hidup sejahtera dan adil. Pergerakan yang dilakukan berdasarkan panggilan rohani yang mendalam, berdasarakan seruan dari Tuhan dari segala manusia beragama.
Hal ini tidak jauh berbeda dengan PMII. Tujuan pergerakannya jelas mendapat dukungan dari NDP yang berasaskan nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Dua asas ini secara bersama-sama mendasari pergerakan PMII dalam mencapai tujuannya. Dimana Allah SWT dalam syariat Islam tidak menghendaki adanya penindasan dan ketidakadilan dilakukan oleh manusia kepada manusia lainnya. Seruan untuk saling membantu bahu-membahu satu sama lainnya. Pada poin inilah, kedua asas ini berjalan. Motivasi yang berasal dari nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan mendasari pergerakan PMII dalam mencapai tujuannya, terutama dalam mewujudkan kesejahteraan, keadilan, dan kemakmuran masyarakat Indonesia. Sisi inilah yang sesungguhnya dapat disandingkan dengan Teologi Pembebasan. Sekaligus sebagai bentuk tertinggi dari nilai keIndonesiaan dan atau nasionalisme dalam PMII.
Kesimpulan saya adalah mahasiwa sebagai pejuang, penggerak, sekaligus sebagai warga pergerakan haruslah mampu dan berani dalam menyuarakan kepentingan masyarakat sebagai bentuk sensitivitas dan keprihatinan terhadap kondisi sosial masyarakat, khususnya yang ada di lingkungannya. Hal yang sekali lagi penting untuk diingat adalah eksistensi PMII sebagai organisasi pergerakan juga tergantung kepada eksistensi masyarakat. Sebagai organisasi pergerakan yang memiliki tujuan dan fondasi yang jelas, warga PMII haruslah selalu menjaga dinamika organisasi sesuai dengan Tri Motto, Tri Khidmat, dan Tri Komitmen PMII.

Oleh: Ahlam Aliatul Rahma, Warga PMII Rayon Al-Biruni

Wednesday, 6 January 2016