Rotating X-Steel Pointer

Wednesday, 14 November 2018

MAHASISWA BARU DAN HETEROGENITAS

Perguruan tinggi tiap tahunnya meluluskan ribuan sarjana dan mendapat invasi puluhan ribu mahasiswa baru yang datang dari berbagai wilayah di nusantara. Padatnya kotakota metropolitan dipenuhi oleh sebagian besar mahasiswa yang melingkupi tiap perguruan tinggi di tiap kota tersebut. Adanya kecenderungan mahasiswa baru dalam berinteraksi sosial yang didasari oleh berbagai kesamaan, terkadang muncul benih primordialisme dan etnosentrisme dalam diri seorang mahasiswa baru yang buta dalam melihat perbedaan. Perguruan tinggi yang diibaratkan sebagai miniatur negara, dapat dijadikan wadah dalam memahami Indonesia sebagai kesatuan bangsa. Perbedaan paradigma mahasiswa yang berasal dari kota dan desa, tentu menjadi sebuah persoalan penting apabila tidak dimaknai secara menyeluruh dan adanya sikap saling menerima perbedaan tersebut. Ataupun yang lebih memprihatinkan adalah munculnya sikap stereotip terhadap mahasiswa yang berasal dari pulau terluar dan memiliki keragaman yang khas baik dari bahasa, budaya ataupun perilaku.

Tuesday, 13 November 2018

PANCASILA SEBAGAI MODEL PENDEKATAN RESOLUSI KONFLIK DI INDONESIA


           Kondisi damai, dan harmonis merupakan sebuah kondisi yang diidamkan oleh semua manusia dimuka bumi tidak terkecuali di Indonesia. Kondisi damai dapat digambarkan sebagai keadaan yang tenang, aman dan tentram tanpa adanya pertikaian sehingga menimbulkan perasaan bahagia bagi manusia. Sayangnya dikarenakan manusia dikodratkan sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dengan manusia lain, terjadinya sebuah pertentangan (konflik) tidak bisa dihindari.
            Menurut kamus Oxford, kata conflict dapat didefinisikan sebagai keadaan ketidaksepakatan yang serius, dan berlangsung secara berlarut-larut. Sedangkan menurut kamus Webster kata conflict didefinisikan sebagai sebuah perjuangan, peperangan antara beberapa pihak. Pruitt&Rubin mendefinisikan konflik sebagai persepsi mengenai kepentingan yang berbeda, atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai secara simultan. Berdasarkan berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa konflik adalah sebuah keadaan pertentangan yang terjadi sebagai akibat ketidaksepakatan antara satu pihak dengan pihak yang lain.
            Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki tingkat kemajemukan tinggi, baik itu dari segi ras, suku, dan agama, melebihi Amerika Serikat yang mencitrakan diri sebagai negara multikultur. Kemajemukan Indonesia tersebut ibarat sebuah pisau bermata ganda, disatu sisi kemajemukan tersebut bisa menjadi sebuah bekal menjadikan Indonesia sebagai negara yang besar, namun disisi lain kemajemukan tersebut juga menjadi salah satu penyebab berbagai konflik yang selama ini terjadi. Jika diruntut dari sejarah Indonesia semenjak memproklamirkan kemerdekaannya, berbagai konflik baik antar golongan, antar suku, dan antar agama terus mewarnai perjalanan Indonesia selama 72 tahun ini. Berbagai contoh konflik itu seperti konflik bentuk negara Komunis (PKI) versus Pancasila, Islam (DI/TII, GAM) versus Pancasila, kemudian konflik suku antara Dayak versus Madura (2001) dan Lampung versus Bali Pendatang (2009), kemudian konflik agama yakni peristiwa Poso (Islam versus Kristen) tahun 1998-2001, serta masih banyak lagi konflik yang pernah mewarnai perjalanan negara Indonesia.
            Indonesia sesungguhnya telah memiliki sebuah sistem nilai, moral, dan dasar yang dapat dijadikan pedoman dalam menengahi berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia, yakni Pancasila. Pancasila semenjak awal dirumuskan dan disahkan pada 1 Juni 1945 merupakan kesepakatan bersama antara berbagai kelompok agama dan suku untuk mencapai sebuah negara yang ideal. Semenjak awal dirumuskan, para pendiri bangsa telah menyadari bahwa seluruh aspirasi dari berbagai kelompok,suku, dan agama harus diwadahi dan terhindar dari permasalahan yang dapat menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sayangnya penerimaan dan penerapan nilai-nilai pancasila hingga kini masih terus mengalami dinamika. Pancasila sejatinya sudah menjadi sistem negara yang final dan tidak boleh dipertanyakan lagi mengenai kecocokan dengan kondisi negara Indonesia, dikarenakan Pancasila sudah dirumuskan sedemikian rupa untuk pas dengan kemajemukan masyarakat Indonesia. Seperti diungkapkan oleh KH. Marzuki Mustamar dalam sebuah ceramah bahwa Pancasila ibaratkan sebuah air putih yang mampu untuk diminum oleh orang sehat maupun orang sakit, berbeda dengan berbagai minuman lain seperti kopi, teh, susu, dan variasi lainnya yang diibaratkan sebagai ideologi-ideologi lain yang belum tentu bisa diminum (diterima) oleh masyarakat lain.
            Menerima dan menerapkan Pancasila sebagai idelogi dan falasah hidup bangsa dalam kehidupan keseharian sebagai upaya juru damai dan menetralisir konflik sesungguhnya tidak semudah dalam teori. Pengalaman masa lampau yang pernah salah dalam menafsirkan Pancasila hanya untuk digunakan sebagai sebuah doktrin justru malah menimbulkan konflik lebih lanjut. Dimasa kini semua pihak harus mengingat jika Pancasila adalah sebuah ideologi terbuka yang mana nilai mutlak yang tak boleh diganggu gugat adalah Pancasila dalam nilai dasar sedangkan Pancasila dalam nilai praksis (penerapan keseharian) haruslah lebih luwes dan mampu dimaknai terbuka oleh semua pihak supaya tidak berpotensi disalahgunakan untuk memeperteguh kekuasaan semata yang kemudian semakin memperbesar api konflik di negeri ini.
            Kesimpulannya konflik merupakan sebuah keniscayaan dalam perjalanan kehidupan setiap bangsa, karena disisi positifnya konflik bisa memperkuat kesatuan sebuah bangsa, namun juga memiliki sisi negative ketika tidak mampu ditangani. Salah satu solusi damai dan penyelesaian konflik khususnya yang berkaitan dengan konflik SARA dinegeri ini adalah penerimaan secara multak Pancasila sebagai sistem nilai dasar final, namun penerimaan final tersebut hanya pada tataran nilai dasar dan nilai instrumental, sedangkan pada tataran praksis haruslah selalu luwes dan bebas ditafsirkan oleh seluruh warga negara Indonesia.
Daftar Rujukan
Merriam-Webster Incorprated. 1995. Merriam-Webster’s Pocket Dictionary.Massachusetts: Merriam-Webster Incorporated.
Oxford University Press. 2005. Oxford Learner’s Pocket Dictionary. Oxford: Oxford University Press
Pruitt, Dean G & Rubi, J.Z. 2009. Teori Konflik Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tongat. 2012. Pancasila Sebagai Dasar Falsafah Negara dan Makna Filosofinya Dalam   Pembaharuan Hukum Pidana Nasional, (Online), (http://media.neliti.com > publication), diakses 24 Januari 2018.




Sunday, 11 November 2018

Pahlawan Dalam Perspektif Zaman Now

Pahlawan adalah siapapun yang mempunyai nilai-nilai kebaikan dan kebermanfaatan baik untuk dirinya sendiri serta untuk Bangsa dan Negara Republik Indonesia.





Monday, 29 October 2018

Diskusi dan Refleksi 90 tahun "Sumpah Pemuda"

KENANGAN: MENGENANG atau DIKENANG
Oleh: M. Ridwan Saidi
Biruni Voice tema refleksi Sumpah Pemuda era milineal serta memperingati 90 tahun Sumpah Pemuda 
Habis manis, sepah dibuang. Kira-kira seperti itu peribahasa yang sering kita baca, dengar, bahkan kita ucapkan. Banyak yang beranggapan bahwa peribahasa itu digunakan saat manusia melakukan tindakan semena-mena kepada manusia lainnya, bersikap tak adil, bahkan serakah! Tidak ada masalah dalam peribahasa itu, memang benar adanya jika manusia serakah, pantas dikatakan seperti itu. Namun yang menjadi menarik adalah memaknai peribahasa itu dengan sangat mudah, di luar kepala. Maksudnya gini, kita ini sekarang sering lupa bahwa yang lebih penting untuk diambil itu isinya, bukan kulitnya. Akhirnya banyak pemuda sekarang yang mudah terpengaruh, lalu mempengaruhi, dan meninggalkannya tanpa ada tanggung jawab yang berarti. Dalam peribahasa yang sangat sering kita dengar itu, siapa pemuda yang tak memahami maknanya? Semua pasti mengerti dan paham maksud dari peribahasa tadi. Namun sangat disayangkan bahwa pemahamannya cukup berhenti disana, hanya sedikit pemuda yang enggan untuk tetap terus memahami pemaknaan-pemaknaan yang lain.
Pemuda masa kini sangat berbeda dengan pemuda masa lalu, walaupun ada keterkaitan di dalamnya (jika tidak ada pemuda masa lalu, maka tidak akan ada pemuda masa kini). Namun banyak pemuda yang sudah melupakan sejarah, mereka bilang sejarah itu kuno, tidak berkembang, bukan zamannya, gagal move on, bahkan menjadi Tuhan dadakan – seperti mengatakan Pancasila dan UUD NRI 1945 itu banyak menimbulkan mudhorot – dan lain sebagainya. Hingga akhirnya, dengan pikiran yang sangat mudah, dangkal, dan sange, pemuda pengikut mukidi lebih memilih pemerintah yang harus berlandaskan khilafah Islamiyah, supaya semuanya kembali kepada Al-Qur’an dan hadits yang menurut mereka (secara tak sadar) memahami mushaf dengan sebatas tekstual. Tentu ini akan menjadi degradasi Pemuda/i sebagai tonggak estafet eksistensi negara.
Ada satu kisah dalam peristiwa bersejarah di negeri Nusantara ini, yaitu Sumpah Pemuda. Jika kita pahami isi 3 (tiga) butir sumpah yang diucapkan pada 28 Oktober 1928, "pertama, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia, kedua, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia dan ketiga, mendjoejidjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia ", maka perlu kita ambil intisari dari perilaku kita saat ini, yakni menumbuhkan kecintaan dan rasa memiliki Indonesia yang perlu dimanifestasikan dari waktu ke waktu. Tentu semua itu bertujuan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik, maju, dan terus berkembang hingga mampu bersaing dengan bangsa lain, tidak terjajah lagi. Jadi (seharusnya) peringatan-peringatan hari besar nasional tidak hanya dikenang lewat kegiatan seremonial saja, lalu bangga karena libur sekolah atau libur kerja.
Memperingati hari Sumpah Pemuda berarti mengingat kembali perjuangan para muda-mudi terdahulu yang dikemas dengan nama Kongres Pemuda II (28 Oktober 1928). Sejak dulu sudah ada organisasi pemuda, dan sejak itu juga sudah ada Perhimpunan Pelajar Pelajar Indoneisa (PPPI). Kongres yang dihadiri oleh wakil organisasi kepemudaan seperti: Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie itu bertujuan untuk melakukan sumpah – yang saat ini tercantum dalam tiga butir isi Sumpah Pemuda tadi – guna memperjuangkan bangsa ini. Banyak opini yang dilontarkan saat kongres berlangsung selama 3 hari itu, hari pertama membahas suatu keinginan untuk bersatu atau melahirkan persatuan, jika kita bersatu akan muncul suatu kekuatan tersendiri untuk merdeka. yang kedua yakni tentang pendidikan, dimana setiap anak yang lahir harus mendapatkan pendidikan dengan konsep kemanusiaan dan kebangsaan, baik itu di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Hal ini bertujuan agar anak menjadi manusia yang cerdas dan disiplin dalam segala hal. Yang terakhir adalah membahas tentang rasa cinta tanah air dengan menanamkan prinsip nasionalisme dan demokrasi.
Peristiwa itu sudah terjadi 90 tahun yang lalu, namun dampak yang diberikan sangat terasa hingga sekarang. Banyak sekali manfaat yang dapat kita ambil dari peristiwa Sumpah Pemuda, namun apakah kita sudah memaknai isi Sumpah Pemuda itu? Apakah kita (sebagai pemuda) sudah merencanakan dan menerapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini? Tentu itu akan menjadi pertanyaan yang harus dijawab oleh masing-masing dari kita. Bahkan sebagian pemuda sudah merealisasikannya.
Terkait kenangan bangsa yang sangat monumental ini, perlukah kita untuk tetap terus mengenangnya? Saya rasa, akan lebih baik jika pemuda zaman milineal seperti sekarang untuk mengenangnya melalui diskusi dan refleksi atau yang sejenisnya guna memaknai sumpah pemuda yang pernah terjadi pada negeri dengan kekayaan SDA ini, selanjutnya tidak berhenti disana, melainkan kita lakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat lainnya, minimal untuk diri sendiri, keluarga, sahabat, bangsa, dan negara yang multikultural ini. Harus!
Hari ini adalah hari yang berbeda dari kemarin-kemarin, dulu tidak ada media menarik seperti medsos sekarang, sangat pantas jika pemuda zaman sekarang ini dikatakan sebagai pemuda zaman medsos (media sosial). Hampir setengah hidup pemuda di Kota Malang dalam setiap harinya adalah memperkosa PSK (Pintarnya Smartphone Kini). Kadang kita hanya bisa memberikan sedikit waktu istirahat pada PSK tadi saat sudah lemas dan lunglai tenaganya, lalu lupa untuk membawa charge. Atau mungkin sebaliknya, kita-lah yang hanya diberikan sedikit waktu istirahat oleh sesosok PSK? Memang tidak bisa dipungkiri, setengah hidup dari pemuda zaman medsos ini adalah hidup bersama PSK. Namun perlu untuk diingat – kalau perlu dicatat – bahwa Smartphone belum tentu membuat pemiliknya menjadi smart, jika tidak menghasilkan manfaat kebaikan dalam dirinya.
Karena pergeseran, perubahan, dan perkembangan zaman yang begitu cepat seperti sekarang ini, bisakah kita sebagai pemuda untuk mengikuti jejak para pendiri dan pejuang negara kita dulu? Lalu sampai sekarang selalu ada – menjadi program tahunan resmi – suatu (ke)harus(an) untuk mengenangnya dan memperingatinya. Banyak sekali pertanyaan yang timbul dalam pikiran, sampai-sampai kita bingung dan lupa untuk menjawabnya. Optimalisasi penggunaan PSK itu tadi sebenarnya bisa membuat diri kita lebih bermanfaat dari hari kemarin, jika itu terus istiqomah memanfaatkannya dengan baik. Sampai kita bisa menghasilkan karya-karya yang tidak menyimpang dari nilai-nilai Pancasila, ikut menjaga kelestarian dan kekayaan kekayaan alam (segi geografis), serta membawa kemaslahatan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Akhir dari sebuah dongeng Cak Saidi di atas hanya akan memunculkan beberapa pertanyaan dalam diri, bahwa kita hidup itu tidak akan pernah lepas dari kenangan. Lalu ingin menjadi pribadi yang seperti apakah kita dari hasil kenangan tadi? Apakah kita menjadi pribadi yang ingin selalu mengenang peristiwa? Ataukah mungkin ingin menjadi pribadi yang dikenang sebagai peristiwa karena telah memberi manfaat? Saya rasa itu adalah sebuah pilihan jawaban subjektif yang harus dijalankan oleh masing-masing kita sebagai pemuda/i, bukan malah justru ditinggalkan. Pemuda itu harus peka dalam situasi dan kondisi bangsa saat ini yang minim rasa toleransi. Selamat hari Sumpah Pemuda yang ke-90, Bangun Pemuda, Satukan Indonesia!

Friday, 7 September 2018

[Press Release] Rayon Al-Biruni Atas Hasil RTK LVI PMII Sunan Kalijaga Malang

Gambar 1 : bakal calon Ketua Komisariat PMII Sunan Kalijaga 2018-2019

Malang, 07 September 2018
Musyawarah tertinggi di tingkatan Komisariat PMII Sunan Kalijaga yaitu RTK LVI yang berlangsung selama 6 hari (31 Agustus – 5 September 2018) telah dilaksanakan dengan penetapan ketua terpilih sahabat Abror dari Rayon Ibnu Sina (FMIPA) sebagai Ketua Komisariat PMII Sunan Kalijaga masa khidmat 2018-2019.

Pelaksanaan RTK tersebut merupakan forum dalam pembahasan laporan pertanggungjawaban pengurus Komisariat PMII Sunan Kalijaga 2017-2018, pengembangan PMII Sunan Kalijaga pada kepengurusan selanjutnya dan diakhiri penetapan Ketua Komisariat PMII Sunan Kalijaga masa khidmat 2018-2019. Forum RTK ini sebagai ajang demokrasi bagi kader-kader di lingkup PMII Sunan Kalijaga dalam mengkritisi, mengevaluasi, dan memberikan solusi bagi permasalahan kompleks PMII tingkatan Komisariat dan hubungannya dengan rayon-rayon di tiap fakultas. Sebuah kesalahan besar, ketika forum RTK hanya dijadikan ajang pembantaian dan penghakiman terhadap orang lain. Hal tersebut justru merusak marwah PMII yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis dan kemanusiaan.

Pembahasan laporan pertanggung jawaban yang begitu alot hingga melewati batas pelaksanaan RTK (31 Agustus – 2 September) mengharuskan sidang dipending dan dipindah ke gedung KNPI yang sebelumnya berlangsung di Tlekung, Batu. Kemudian, dilanjutkan dengan pembahasan Sidang komisi yang terkait arah pengembangan organisasi dan rekomendasi PMII Komisariat Sunan Kalijaga masa khidmat 2018-2019 dengan dibagi menjadi 3 komisi dengan perincian, komisi A (membahas pengembangan organisasi dan program umum tahunan pengurus Komisariat PMII Sunan Kalijaga), komisi B (membahas struktur organisasi dan job description pengurus komisariat PMII Sunan Kalijaga), komisi C (membahas pokok-pokok pikiran dan rekomendasi).

Tahap terakhir dalam prosesi sidang RTK LVI adalah pemilihan ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga masa khidmat 2018-2019 yang berlangsung dalam sidang pembahasan tata tertib pemilihan ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga dan tim formatur. Sebelumnya, jauh-jauh hari sudah dilakukan konvensi tiap rayon terkait sikap dan rekomendasi calon ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga ataupun koalisi yang dibangun di tiap rayon dalam mengusung calon ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga. Setelah melakukan pembacaan tatib pemilihan ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga oleh pimpinan sidang, yang dilakukan dengan menuliskan 2 nama bakal calon pada secarik kertas yang telah dibubuhi stempel dengan perolehan minimal 10 suara untuk diajukan menjadi bakal calon. Maka diperoleh hasil bakal calon sebanyak 7 orang yaitu sahabat Rouf (Al-Haddad, FT), sahabat Faisal Mustofa (Al-Biruni, FIS), sahabat Slamet Rianto (Ibnu Nafis, FIK), sahabat Hendra (Ibnu-Kholdun, FE), sahabat Zamakh (Ibnu-Kholdun, FE), sahabat Abror (Ibnu-Sina) dan sahabat Rifqi (Al-Haddad, FT). Namun, dalam pembacaan point persyaratan calon ketua harus mendapat rekomendasi dari rayon secara tertulis dan berstempel, sempat mengalami kendala dan polemik dikarenakan dari ketujuh bakal calon tersebut, hanya rayon Al-Biruni yang merekomendasikan secara formal administratif hingga kemudian muncul rekomendasi lain dari rayon Ibnu Sina yang ditulis tangan dan dibubuhi stempel untuk diberikan kepada pimpinan sidang. Namun, rayon Al-Haddad mengopsikan pending dikarenakan calon yang mereka usung terkendala administratif tersebut. Sehingga, setelah mengalami perdebatan dari beberapa rayon, maka diputuskan sidang dipending untuk melengkapi rekomendasi tertulis dari tiap-tiap rayon.

Gambar 2 : Ketua Terpilih Komisariat PMII Sunan Kalijaga masa khidmat 2018-2019

Kemudian, beberapa waktu berjalan hingga Rabu 05 September 2018 dinihari, sidang dilanjutkan untuk proses persyaratan calon ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga, hingga rekomendasi akhir dari tiap rayon diperoleh hasil terdapat 3 nama calon ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga 2018-2019 yaitu sahabat Faisal Mustofa (Al-Biruni, FIS), sahabat Abror (Ibnu Sina, FMIPA), sahabat Rifqi (Al-Haddad, FT), sedangkan bakal calon yang lain gugur. Sidang dilanjutkan dengan persyaratan teknis lainnya terkait komitmen dan deklarasi calon untuk siap menjadi ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga 2018-2019. Pembahasan tata tertib yang ditutup kemudian dilaksanakan prosesi pemilihan kedua untuk memilih ketiga calon tersebut. Sebelumnya, pada pemilihan tahap pertama suara dimenangkan oleh sahabat Faisal Mustofa dengan perolehan 23 suara. Namun, pada pemilihan tahap kedua diperoleh hasil yang berbeda denga perolehan suara sahabat Abror (31 suara), sahabat Faisal Mustofa (26 suara) dan sahabat Rifqi (11 suara). Dengan demikian, perolehan suara tahap pertama tidak menentukan perolehan suara tahap kedua yang diprediksi awal bahwasanya sahabat Faisal Mustofa yang bakal terpilih sebagai ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga dengan melihat kesiapannya secara moral dan administratif rekomendasi dari rayonnya sendiri. Oleh karena itu, pengurus Rayon Al-Biruni menyikapi hasil RTK LVI PMII Komisariat Sunan Kalijaga yaitu :
  1. Usaha maksimal dalam memperjuangkan aspirasi internal warga rayon Al-Biruni dan koalisi dengan rayon lain, terkait suksesi menuju LIGA I dengan merekomendasikan sahabat Faisal Mustofa sebagai calon ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga yang justru gugur dalam suksesi tersebut.
  2. Komunikasi yang intensif jauh hari sebelum dan pelaksanaan RTK dengan rayon lain dalam membangun koalisi, mengharuskan menerima proses akhir RTK LVI dengan terpilihnya sahabat Abror dari rayon Ibnu Sina (FMIPA).
  3. Bersedia berkontribusi untuk PMII Komisariat Sunan Kalijaga masa khidmat 2018-2019.

Malang, 07 September 2018
PR. PMII Al-Biruni
ttd
M. Syarifuddin
Ketua

ttd
Suryaningsih
Sekretaris

Wednesday, 22 August 2018

Pelantikan Bersama Empat Rayon di Komisariat LIGA

Design by: Febri Adi

MALANG. Empat Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kota Malang, yaitu Rayon Al Biruni (FIS), Rayon Al Ghozali (FIP), Rayon Al Maturidi (FS), dan Rayon Ibnu Nafis (FIK) pada Jum'at (17/08) kemarin resmi dilantik. Keempat rayon tersebut adalah rayon-rayon dari PMII Komisariat Sunan Kalijaga (Universitas Negeri Malang).

Empat nahkoda dari empat Rayon tersebut adalah Syarif Al Biruni, Fitra Al Ghozali, Ziyana Al Maturidi, dan Ramlah Ibnu Nafis.

Pelantikan berlangsung mulai pukul 19.30 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Dengan stadium general diisi oleh Sahabat Muslim Paranto Noor Asoffa (Kepala Poliklinik UM).

"Alhamdulillah, pelantikan berjalan dengan lancar dan sangat meriah," kata Syarif Ketua Rayon PMII Al Biruni periode 2018-2019.

Pelantikan ini, lanjut Syarif, mengusung tema 'meningkatkan sinergitas kepengurusan dalam membentuk generasi Ulul Albab". Dengan harapan, semoga kepengurusan bisa solid, baik di internal rayon maupun dengan rayon-rayon lain, khususnya di lingkup Komisariat LIGA (Sunan Kalijaga). Generasi Ulul Albab adalah konsep dari Al Qur'an yang kemudian oleh PMII ditadabburi sehingga lahirlah  Tri Motto, Tri Khidmah, dan Tri Komitmen PMII.

Mahasiswa Jurusan Sejarah UM asal Nganjuk tersebut juga berharap bahwa para pengurus bisa semakin agresif dalam menggerakkan roda organisasi di setiap lini kehidupan mahasiswa. Baik dalam hal akademik, organisasi intra kampus, sosial, kebangsaan, maupun mengawal kebijakan publik dari birokrasi kampus dan pemerintah RI.

Hadir dalam acara tersebut Sahabat Fajar Ketua Komisariat LIGA, dan kader-kader perwakilan beberapa Rayon PMII se-Kota Malang.[]

Potong Tumpeng, Peresmian Basecamp Baru Rayon Al Biruni

Pemotongan Tumpeng oleh Ketua Kom LIGA diberikan Kepada Ketua Rayon Al Biruni

Sekretariat adalah tempat yang sangat penting bagi semua organisasi. Di sanalah para pengurus dapat berkumpul setiap waktu. Menjadi rumah kedua atau pun ketiga. Ikatan emosional pengurus yang sering bertemu dan berkumpul akan menjadi semakin kuat, dan itu dapat ditunjang dengan adanya sekretariat atau basecamp. Selain untuk tempat berkumpul, basecamp juga penting untuk fungsi kesekretariatan: surat-menyurat, arsip, tempat inventaris, dan kelengkapan organisasi lainnya. Itulah yang menjadi latarbelakang diresmikannya basecamp PMII Rayon Al Biruni (FIS UM) pada Kamis (16/08) kemarin.

Peresmian basecamp berlangung mulai pukul 19.30 WIB hingga 21.30 WIB sambil diisi dengan membaca sholawat diba' yang merupakan kegiatan rutin setiap malam Jum'at oleh LSO TPAI PMII Komisariat LIGA.

Sekitar 150 warga PMII se-Komisariat LIGA hadir dalam acara tersebut.

"Kemarin (acara peresmian basecamp, Red.) dihadiri sekitar 150 orang," kata Syarif, "Hingga kami kualahan dalam menjamu mereka. Jumlah segitu sangat jauh melebihi ekspektasi kami," ungkap Ketua Rayon PMII Al Biruni tersebut.

Basecamp yang baru PMII Rayon Al Biruni tersebut berada di Jl. Candi Blok II A No 388 RT 07/02 Klurahan Karang Besuki Kec. Sukun Kota Malang Jawa Timur,  Kode pos 65146.

Peresmian tersebut dihadiri Fajar Ketua Komisariat LIGA, Faisal Ketua Demisioner Rayon Al Biruni, dan puluhan kader PMII se-LIGA. Selain itu, tampak hadir pula calon anggota baru PMII yang merupakan mahasiswa baru di UM.[]

Sunday, 6 May 2018

Esai dari Social Awareness


Ia, Adalah Tempat Mu Kembali dan Pergi
Oleh: Khusnul Khotimah

Kau, mau kembali atau tidak?
Kau bergairah untuk beranjak atau hanya sekedar melakukan proses yang tak bermakna di negeri ini?
Wahai kau……
“Mahasiswa Zaman Now!”

Kalimat diatas bukan hanya abjad-abjad fiktif belaka, tapi kalimat di atas ialah sebuah pertanyaan atas peneguhan jati diri sesungguhnya sebagai pemuda Indonesia. Bersediakah kita membuka kaca mata secara kritis atas realitas saat ini? Kita lihat permasalah di Indonesia saat ini yang tidak hanya terperosok dalam permasalahan ekonomi, budaya, politik, namun permasalahan kesatuan negeri ini pun masih menjadi tranding topik. Kita, yang katanya adalah bangsa yang satu walau dengan keberagamannya, nyatanya masih menghadapi krisis kebangsaan yang akut. Realitanya  masih banyak kasus yang mengancam kesatuan negeri ini . Tak perlu jauh-jauh, di dalam dunia perkuliahan saja kita masih banyak mendapati mahasiswa zaman now yang lekat dengan sikap intoleransi, diskriminasi, dan egoisme yang berujung pada pergolakan yang dilatar belakangi kepentingan ideologi golongannya masing-masing.
Dalam sekup yang lebih luas kita akan banyak mendapati krisis kebangsaan yang melibatkan banyak aspek. Masih ingatkah kita akan tragedi kemanusiaan Syiah Sampang yang masyarakatnya dibunuh, rumahnya dibakar serta diusir dari kampung halamannya sendiri karena agama yang dianggap sesat oleh masyarakat lain? Sadarkah kita diskriminasi yang masih terjadi pada kaum etnis Tionghoa di Indonesia? Serta masih ada permasalahan lama tentang diskriminasi dan pengucilan terhadap keluarga tertuduh PKI yang sampai sekarang masih belum terselesaikan, bahkan dari pihak pemerintah sendiri juga belum merealisasikan penyelesaiannya.
Mahasiswa yang diberikan amanah pemangku julukan agent of change haruslah lebih berfikir rasional dan bersikap bijak dalam menyikapi kehidupan sosialnya yang  tak homogen sehingga tidak sampai menciptakan suatu konflik besar yang mengancam kehidupan berbangsa. Seharusnya kita memiliki rasa malu jika hari ini masih saja ribut dengan permasalahan kesatuan dan krisis kebhinekaan. Padalah sebenarnya kebhinekaan yang murni sudah ada sebelum kemerdekaan Indonesia yang tercermin pada Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda merupakan investasi keberhasilan Kemerdekaan Indonesia yang sampai saat ini masih terus diperingati.
Istilah Sumpah Pemuda baru  dimunculkan pertama kali pada 28 Oktober 1954 ketika Presiden Soekarno beserta Moh.Yamin membacakan Ikrar Pemuda dalam Kongres Bahasa di Medan. Saat itu semua yang hadir dalam kongres, terutama Presiden Soekarno serta para wartawan dengan spontan menyebutnya sebagai Sumpah Pemuda. Sementara pada tanggal 28 Oktober 1928 yang banyak disebut sebagai tonggak perayaan hari Sumpah Pemuda merupakan ikrar yang gagasan penyelenggaraannya ialah dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPI) dari  seluruh penjuru Indonesia, yang dikenal dengan Kongres Pemuda ke dua. Sedangkan Kongres  Pemuda pertama dilaksanakan pada tahun 1926 ketika para pemuda Indonesia mulai merumuskan tiga ikrar yang sampai kini kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin yang sekaligus sebagai otak dari ikrar tersebut yang didukung oleh para pemuda dari berbagai daerah.
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Bertumpah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia
Kita bisa menghayati tiap kalimat ikrar Sumpah Pemuda ini. Betapa strategi pikiran dan sikap yang sangat bermakna yang didasari oleh nasionalisme dan rasa cinta akan persatuan bangsa. Ketika ditengah-tengah suasana yang menekan, memanas dan genting, para pelaku dalam sejarah Sumpah Pemuda ini mampu mengenyampingkan kepentingan ideologi masing-masing, mendamaikan perbedaan agama, suku, ras, bahasa, budaya mereka demi tercapainya kemerdekaan Indonesia yang menjadi harapan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Dari sejarah Sumpah Pemuda ini seharusnya kita bisa belajar dan mengamalkan ikrarnya meski kita tidak ikut serta dalam pencetakan sejarah kala itu. Namun, nyatanya kita masih sibuk dengan isu SARA yang seharusnya hal-hal seperti ini sudah tidak pernah ada lagi di negeri kita. Harusnya kita sudah benar-benar memahami dam mengamalkan prinsip-prinsip Sumpah Pemuda. Inilah yang seharusnya menjadi jati diri kita sebagai Pemuda Indonesia. Ia, adalah tempat kita kembali untuk menengoka dan belajar sekaligus titik beranjak kita untuk melangkah maju. Mengingat Sumpah Pemuda merupakan ekspresi kebhinekaan yang sudah ada sejak pra kemerdekaan, yang mana perlu kita amalkan dan kita teruskan penjagaannya. Keadaan yang seperti inilah yang akan menutup konflik-konflik kebangsaan di Indonesia. Hal yang perlu kita camkan adalah bahwa Indonesia lahir dari keberagaman yang seharusnya tetap bisa harmonis. Seperti kata Gus Dur bahwa keragaman adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya.
Sekarang bagaimana caranya agar kita sebagai pemuda Indonesia terutama mahasiswa untuk berkembang, berfikiran visioner dan progresif demi kemajuan bangsa. Kita tengok Negara lain yang pemuda dan mahasiswanya sibuk dengan penemuan-penemuan produk baru yang menunjang kejayaan bangsanya. Ketika Negara lain ribut mencari cara untuk ke Mars (NASA: Pendobrak satelit pemantau planet) dan sibuk dengan perkembangan-perkembangan di berbagai bidang untuk kejayaan dan menciptakan solusi dari krisis serius negerinya. Bukan malah melepas kesatuan bangsa dan ter-auto fokus pada pencapaian akademik, tapi harusnya kita benar-benar menjaga jangan sampai ada konflik kebhinekaann lagi, sembari beranjak fokus menatap masa depan bangsa yang lebih jaya. Sebagai pemuda yang berevolusi pada kemodernan untuk perkembangan bangsa di desah zaman yang semakin maju dan penuh persainangan antar negara tanpa melupakan sejarah. Sikap bijak diperlukan untuk menjaga kesucian dan persatuan bangsa yang dicapai dengan penuh pengorbanan para pendahulu negeri.

“Wahai kau, mahasiswa Zaman Now
 Setelah kau kembali pada sejarah mu
 Bersedikah kau untuk beranjak pergi menuju proses dan perjuangan demi bangsa mu yang lebih maju?
 Tunjukkan darah juang mu sebagai mahasiswa yang dinantikan seluruh lapisan penghuni      negeri mu”.
 Karena itulah Jati Diri Mu di Negeri Tercinta Ini….

Penulis adalah anggota PMII Rayon Al-Biruni


Daftar Rujukan
Nisrina, Abu. 2014. Kronologi Tragedi Kemanusiaan Syiah Sampang (online) (Satuislam.org/humaniora/kronologi-tragedi-kemanusiaan-syiah-sampang/)
Anggraeni, Pipit. 2017. Sederet Fakta Tentang Sumpah Pemuda, Kids Zaman Now Wajib Tahu! (online) (http://malangtoday.net/malang-raya/fakta-sumpah-kids-zaman-now/)
Tanpa nama. 2015. Sejarah Sumpah Pemuda Singkat Lengkap (online) (sejarahrakyat.blogspot.co.id/2015/08/sejarah-sumpah-pemuda-singkat-lengkap.html?m=1)

Saturday, 5 May 2018

Khayal

KAYAL*

Aku ,juga bagian darimu
Harusnya, ku dapati bagian sepertimu
Patut yang dituntun
Wajar yang dikejar
Pantas yang digagas
Dulukudapati
Kata  layak benar-benar tercermin
Hanya  saja  dalam cermin cekung
Hingga bayangan yang ada bukan layak
Tapi, kayal
Kini, kudapati
Kata kayal tersebut perlahan berbalik
Merangkai kembali kata yang kami idamkan
Kata layak
Darimu kami mendapat nikmat
Berjuang dari kayal pada layak
Menuntut
Menuntut yang tak sekedar menuntun
Menuntut karena telah usai kewajibannya
Terima kasih biruni
Buat kami seperti ini

*Dewi Khoirun Nikmatus Zulaikah
Ibnu Nafis

Kuantum Senja untuk Biruni

By : Chusnul
Rayon Al-Biruni

Jika kau tanya tentang siapa yang mengadu tentang gundah.
Maka, akan ku jawab bahwa ia adalah aku.
Jika kau bertanya tentang siapa yang meleleh saat bersama.
Maka, akan ku jawab bahwa ia adalah aku.

Jika kau masih memperdebatkan, siapa yang merasa bahagia.
Maka, tetap akan ku jawab bahwa ia adalah aku.
Iya, aku.
Aku yang tak pernah bisa lepas dari keriuhan itu.

Diantara makhluk-makhluk yang Tuhan ciptakan dengan ketidak jelasannya.
Dengan semua hal-hal aneh yang membuatku merasa sedikit gila.
Hahaha, dengan bincangan imajinasi dan ideologi dilewat batas normal.
Asap rokok, dagelan, secangkir kopi di depan matanya masing-masing.

Riuh?
Iya.
Berisik?
Tidak salah.

Tapi kau, tahu? Aku selalu suka itu.
Menikmati waktu bersama tanpa ada ragu.
Demi Tuhan, hati ku sudah jatuh padamu.
Padamu yang aku berhasrat untuk mengindahkanmu.
Memoles gemulai pergerakanmu dengan ciri khasmu.
Aku ingin, sangat ingin memperjuangkan hal-hal cantik untukmu.
Untuk kalian. Ku ingin berikan kuantum senja untuk yang tercinta.
Kalian, Biruni yang telah ku pilih untuk ku cintai.



Selamat Hari Ulang Tahun Biruni ku...
Semoga yang terbaik selalu tersemogakan oleh Tuhan dan semesta.
Salam Pergerakan, Semangat perjuangan.
Love Biruni...

Refleksi: Ambisi, Revolusi, dan Jati Diei

Dalam lamunan ku bertanya,
Mengapa senja  harus  musnah, mengalah pada gulita malam?
Rona merah  keemasan lebur menjadi hitam
Lenyap  bersama cemas, abadi  menghidupi  gelap.

Dalam lamunan kumelamun,
Manusia menciptakan senja, bersama hati begitu mesrahnya
Malam tercipta atas kehendak dunia, bersama pesta  namun tak bahagia
Insan akan punah. Menyerah  pada semesta.

Dalam lamunan  kuterbangun,
Ternyata malam tak selamanya  gagah.
Takluk pada mentari, memohon ampun pada pagi

Manusia beradu dengan dunia yang semakin gila
Dibawah panji kuning keemasan, menghiasai  langit biru dan bumi
Bergerak pasti, diusia yang akan selalu baru  lagi.

Refleksi: ambisi, revolusi, danjatidiri.


SELAMAT HARLAH!
TETAP SEMANGAT, TAK MENGALAH PADA MALAM,
BERGERAK MEMBENTUK GERANASI ULUL ALBAB

Sawojajar, 21 April 2018
Fitrah Rayon Al-Ghozali

Harum Pergerakan

Dalam ayunan pergerakan,
rindu dan nestapa bertolak pikiran
Aku hendus harum bunga pergerakan,
menadah kasih pada jalanan
Dari perselingkuhan biasa,
sampai pada yg tak dapat baca
Hari fitrah yg penuh cita dan tak pernah suka
Dimana penjelmaan kembali di hadirkan dengan tawa
Hari itu menolak lupa, sebuah karya yg menjadi nyata
Perjalanan kisah yang menjadi menjadi kasih
Pada harum pergerakan yang takkan pernah menjadi duri
Selamat hari lahir Rayon PMII Al Biruni

Batu, 21 April 2018
Ali Bisri




Nama : Firdaus
Rayon : Ibnu Sina

Hujan pembawa perubahan
Detik terus berjalan bagai hujan yg turunnya tenang,
Tidak begitu deras, namun perlahan pasti
Cipratan airnya menghantarkan gelombang bunyi
Begitu nyaring merasuk dalam hati ini
Sesambil memejamkan mata, penuh hikmat merefleksikan diri
Sungguh sangat indah sekali.

Semoga sukses sahabat-sahabatku.
Tetap pegang prinsip"mu.
Dengarkan setiap kritik dan saran, untuk menghasilkan sebuah kesuksesan

Jadilah kader kader yang berani pertaruhkan harga diri, namun jangan kurangi jati diri. Memayuhayuningkanlahbawana dengan membrantas angkara murka.

Hati dan Organisasi


Dua hal yang saling mengisi
Tanpa ruang namun dengan arti
Tanpa celah namun sangat berarti
Dari hati kami memili jalan
Dari hati kami berjuang
Dari hati kami mengabdi bersama teman
Dari hati kami tak pernah berhenti menggengam tangan
Kami bertekad menerbangkan mimpi bersama
Kami bertekad mewarnai langit impian
Kami bertekad merajut sutera harapan
Kami bertekad menanam benih cita
Dengan do’a, harapan dan kerja keras kami berusaha
Kami berusaha menjahit benang demi benang
Merajut tiap untai harapan
Dan melupakan bulir keringat yang jatuh dari kepala yang terbakar mentari
Kami melihatmu maju
Walau halang dan rintang menghujam dari berbagai penjuru
Kami berjanji takkan membiarkanmu terhenti
Kami berjanji hati nuraniku takkan terhenti sampai disini



By: Dewi Khoirun Nikmatus Zulaikah
Ibnu Nafis

Monday, 5 February 2018

INTEGRATED INDUSTRIAL CONSEPT (IIC) DALAM PEMERATAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH PERBATASAN DI INDONESIA UNTUK MENGHADAPI MEA


Oleh; Rifki dan Newreal

Abstract
Boarder area has been the main focus in term of keeping the defence and safety of the country since the first independent day of Indonesia was declared. Recently in 2015, Asean Economic Community (AEC) Which allows all economic sectors to pass freely to any countries in South East Asia will be done. This AEC had been approved in ASEAN summit held in Bali on October 2003 by 10 countries in South East Asia Involved in ASEAN.  However, the biggest challenge faced by Indonesia is on the boarder area which becomes the access of any economic activities. Because of that reason, the lack of infrastructure provided and industrial area in that area become the main factor which should be cocerned because  without the internal strength through the equality of the independent resources and infrastructure development in Indonesia, the domination other countries is likely occured.

Keywords: Integrated Industrial, equitable, development, border areas.


Abstrak
Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang daerah perbatasan menjadi sorotan utama dalam menjaga ketahanan dan keamanan Negara. Terlebih tahun 2015 Masyarakat ekonomi Asean (MEA) akan diberlakukan. kegiatan Perekonomian dari berbagai sektor bebas keluar masuk lintas Negara di Asia Tenggara. 10 negara di Asia Tenggara telah bergabung dan menyepakati terbentuknya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) melalui Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bali pada bulan oktober 2003. Hambatan terbesar Indonesia dalam menghadapi MEA relatif ada pada daerah perbatasan yang menjadi akses keluar masuknya berbagai kegiatan perekonomian. Kurangnya Infrastruktur yang memadai dan kawasan industri di daerah perbatasan menjadi faktor utama yang harus diatasi. Tanpa adanya penguatan secara Internal melalui pengelolaan Sumber daya secara mandiri oleh Indonesia dengan pemerataan dan pembangunan, dominasi Negara lain akan terbentuk. 

Kata kunci: Integrated Industrial, Pemerataan, Pembagunan, Daerah Perbatasan

 Pendahuluan
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbesar dengan ±17.504 pulau dimilikinya. Sebagai negara kepulauan menjadi sebuah keuntungan dan kelebihan tersendiri tetapi tidak menuntup kemungkinan kelemahan juga dimiliki. Permasalahan tersebut adalah terdapat pada daerah perbatasan yang kurang mendapatkan pemerataan dan pembangunan secara industri dan infrastruktur. Permasalahan daerah perbatasan khususnya disepanjang garis tepi darat Indonesia dengan negera lain rata-rata adalah pada rendahnya aksesibility, terbatasnya sarana prasarana baik dalam aspek kesehatan atau perekonomian, rendahnya kualitas sumber daya manusia, dan belum optimalnya pembangunan dikawasan perbatasan.[1] Permasalahan tersebut merupakan masalah klasik dan pasti ada dalam setiap negara, khususnya pada negara kepulauan yang mempunyai tantangan kesejahteraan dan mobilitas sangat tinggi.
Realitasnya di daerah Entikong secara infrastruktur khususnya pada jalan raya yang masih 40 persen dari jalan paralel perbatasan Republik Indonesia dengan Malaysia sepanjang 1.900 KM.[2] Hal tersebut adalah salah satu contoh permasalahan yang ada di perbatasan Republik Indonesia, mengingat tidak hanya satu negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia tetapi tiga negara untuk batas darat yaitu Malaysia, Papua New Guinea, dan Timor Leste. Sedangkan laut sebanyak 10 negara yang berbatasan langsung dengan Negara Indonesia.[3] Seiring dengan akan diberlakukannya MEA pada awal tahun ini tekanan arus keluar masuknya proses perekonomian negara lain secara kuantitas banyak terjadi di laut dan pelabuhan. Akan tetapi perbatasan daratan perlu di kelola dan diatur sedemikian baik agar tekanan luar minim.
Terkait dengan kesepakatan mengenai MEA oleh negara-negara ASEAN pada KKT Kuala Lumpur, Malaysia bulan Desember 1997 yang kemudian dilanjutkan pada KTT Bali, Indonesia bulan Oktober 2003 terdapat 10 negara yang bergabung yaitu Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Masyarakat ekonomi Asean (MEA) diberlakukan pada awal tahun 2016. Indonesia perlu memperbaiki kondisi internal dan mempersiapkan menghadapi MEA terlebih melalui daerah perbatasan. Potensi perbatasan darat Republik Indonesia sangatlah banyak perlunya pengelolaan dan pemanfaatan sesuai amanat uudnri pasal 33 ayat 3 yang berbunyi “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat” dapat terwujud. Jika tidak ada pengelolaan secara mandiri oleh indonesia, tentu laju ekonomi akan merosot.
Negara yang tergabung dalam MEA dan berbatasan langsung secara darat oleh Indonesia adalah Malaysia. Secara administrasi, Indonesia-Malaysia berbatasan dipulau kalimantan meliputi dua provinsi yaitu kalimantan barat dan timur. Sedangkan batas geografisnya pulau kalimantan berbatasan dengan negara malaysia bagian sabah dan serawak memiliki panjang 1.885,3 KM.[4] selain itu berdasar pada perjanjian lintas batas Indonesia-Malaysia tahun 2006 disepakati 18 pintu batas Melihat posisi Indonesia secara menempati posisi 121 dari 185 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia dan tertinggal dibawah dari negara Malaysia dengan peringkat 64.[5] Sehingga sudah terlihat kualitas pembangunan manusia Indonesia jauh dibawah Malaysia. Oleh karenanya konsep pemusatan industri bagi wilayah perbatasan khususnya Indonesia-Malaysia menjadi hal terpenting, selain dapat memajukan masyarakat sekitar karena adanya pengembangan ketrampilan dan ketenaga kerjaan, ekonomi, dan pengelolan Sumber daya alam dapat terkontrol langsung oleh negara Indonesia.
            Konsep pembaharuan dan pengendalian dalam proses menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dipandang perlu, terlebih pada banyak sekali dampak negatif yang terjadi jika secara internal Negara belum berjalan dan segala keperluan infrastrutur dan industri mandiri belum memadai untuk menunjang masyarakatnya. Sehingga diperlukan arah dan reorganisasi tata kelola daerah perbatasan. Beberapa rumusan masalah yang relevan diajukan dalam karya tulis ini, sebagai berikut: 1) bagaimana kondisi ekonomi dan perindustrian yang terdapat di daerah perbatasan Indonesia?; 2) bagaimana implikasi konsep integrated industrial terhadap pemerataan dan pembangunan daerah perbatasan Indonesia?; 3) bagaimana implikasi konsep integrated industrial dengan peraturan yang ada di Indonesia?.
Tujuan dan Maksud disusunnya karya tulis ini adalah untuk: 1) mengetahui kondisi ekonomi dan perindustrian yang terdapat di daerah perbatasan Indonesia; 2) Mengetahui implikasi konsep integrated industrial terhadap pemerataan dan pembangunan daerah perbatasan Indonesia; 3) mengetahui mengetahui implikasi konsep integrated industrial dengan peraturan yang ada di Indonesia. Adapun kegunaan dari karya tulis ini adalah: 1)  sebagai bahan pertimbangan  bagi pemerintah pusat dalam memutuskan kebijakan untuk menghadapi MEA sekaligus dalam untuk pembangunan daerah perbatasan; 2) sebagai masukan bagi masyarakat diluar daerah perbatasan agar sadar dan memiliki empati dalam membantu masyarakat di daerah perbatasan; 3) sebagai bahan referensi bagi peneliti yang berminat dalam pengembangan karya tulis ini; 4) sebagai sarana pengembangan bakat dan minat bagi kaum akademisi untuk menuangkan gagasan dan ide mengenai karya ini.

Kondisi Wilayah Perbatasan Indonesia
Wilayah perbatasan menjadi gerbang suatu negara untuk melakukan lintas batas berbagai sektor khususnya ekonomi oleh negara lain. Sehubungan dengan diberlakukannya MEA Indonesia harus mampu dan siap menghadapinya. Mengingat secara perekonomian Indonesia tergolong Miskin, sudah seharusnya dan mampu untuk memanfaatkanya agar kemajuan ekonomi tercapai. Akan tetapi perlu melihat dari aspek geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang harus berusaha membenahi daerah-daerah yang rawan dan belum mendapatkan pembangunan Infrastruktur yang memadai khususnya industri sebagai penunjang kemajuan ekonomi. Berikut adalah gambar kondisi daerah perbatasan dikawasan pulau Kalimantan secara geografis dan infrastrukturnya yaitu:
Gambar diambil dari http://google.com
Dari gambar diatas dapat dilihat dengan jelas kondisi secara batas negara Indonesia dari satelit yang berhimpitan langsung secara darat dengan malaysia. Selain itu kondisi infrastruktur yang belum memadai dan tidak layak digunakan sebagai jalur lalu lintas atau lintas batas negara. Sedangkan secara umum wilayah perbatasan Indonesia dari daftar pulau terluar sebagai berikut:[6]

No.
Nama Pulau
Kabupaten/
Kota
Provinsi
Negara yang berbatasan
1
P. Rondo
Sabang
 NAD
India
2
P. Berhala
Deli Serdang
 Sumatera Utara
Malaysia
3
P. Nipah
Batam
 Riau
Singapura
4