Rotating X-Steel Pointer

Friday, 7 September 2018

[Press Release] Rayon Al-Biruni Atas Hasil RTK LVI PMII Sunan Kalijaga Malang

Gambar 1 : bakal calon Ketua Komisariat PMII Sunan Kalijaga 2018-2019

Malang, 07 September 2018
Musyawarah tertinggi di tingkatan Komisariat PMII Sunan Kalijaga yaitu RTK LVI yang berlangsung selama 6 hari (31 Agustus – 5 September 2018) telah dilaksanakan dengan penetapan ketua terpilih sahabat Abror dari Rayon Ibnu Sina (FMIPA) sebagai Ketua Komisariat PMII Sunan Kalijaga masa khidmat 2018-2019.

Pelaksanaan RTK tersebut merupakan forum dalam pembahasan laporan pertanggungjawaban pengurus Komisariat PMII Sunan Kalijaga 2017-2018, pengembangan PMII Sunan Kalijaga pada kepengurusan selanjutnya dan diakhiri penetapan Ketua Komisariat PMII Sunan Kalijaga masa khidmat 2018-2019. Forum RTK ini sebagai ajang demokrasi bagi kader-kader di lingkup PMII Sunan Kalijaga dalam mengkritisi, mengevaluasi, dan memberikan solusi bagi permasalahan kompleks PMII tingkatan Komisariat dan hubungannya dengan rayon-rayon di tiap fakultas. Sebuah kesalahan besar, ketika forum RTK hanya dijadikan ajang pembantaian dan penghakiman terhadap orang lain. Hal tersebut justru merusak marwah PMII yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokratis dan kemanusiaan.

Pembahasan laporan pertanggung jawaban yang begitu alot hingga melewati batas pelaksanaan RTK (31 Agustus – 2 September) mengharuskan sidang dipending dan dipindah ke gedung KNPI yang sebelumnya berlangsung di Tlekung, Batu. Kemudian, dilanjutkan dengan pembahasan Sidang komisi yang terkait arah pengembangan organisasi dan rekomendasi PMII Komisariat Sunan Kalijaga masa khidmat 2018-2019 dengan dibagi menjadi 3 komisi dengan perincian, komisi A (membahas pengembangan organisasi dan program umum tahunan pengurus Komisariat PMII Sunan Kalijaga), komisi B (membahas struktur organisasi dan job description pengurus komisariat PMII Sunan Kalijaga), komisi C (membahas pokok-pokok pikiran dan rekomendasi).

Tahap terakhir dalam prosesi sidang RTK LVI adalah pemilihan ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga masa khidmat 2018-2019 yang berlangsung dalam sidang pembahasan tata tertib pemilihan ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga dan tim formatur. Sebelumnya, jauh-jauh hari sudah dilakukan konvensi tiap rayon terkait sikap dan rekomendasi calon ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga ataupun koalisi yang dibangun di tiap rayon dalam mengusung calon ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga. Setelah melakukan pembacaan tatib pemilihan ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga oleh pimpinan sidang, yang dilakukan dengan menuliskan 2 nama bakal calon pada secarik kertas yang telah dibubuhi stempel dengan perolehan minimal 10 suara untuk diajukan menjadi bakal calon. Maka diperoleh hasil bakal calon sebanyak 7 orang yaitu sahabat Rouf (Al-Haddad, FT), sahabat Faisal Mustofa (Al-Biruni, FIS), sahabat Slamet Rianto (Ibnu Nafis, FIK), sahabat Hendra (Ibnu-Kholdun, FE), sahabat Zamakh (Ibnu-Kholdun, FE), sahabat Abror (Ibnu-Sina) dan sahabat Rifqi (Al-Haddad, FT). Namun, dalam pembacaan point persyaratan calon ketua harus mendapat rekomendasi dari rayon secara tertulis dan berstempel, sempat mengalami kendala dan polemik dikarenakan dari ketujuh bakal calon tersebut, hanya rayon Al-Biruni yang merekomendasikan secara formal administratif hingga kemudian muncul rekomendasi lain dari rayon Ibnu Sina yang ditulis tangan dan dibubuhi stempel untuk diberikan kepada pimpinan sidang. Namun, rayon Al-Haddad mengopsikan pending dikarenakan calon yang mereka usung terkendala administratif tersebut. Sehingga, setelah mengalami perdebatan dari beberapa rayon, maka diputuskan sidang dipending untuk melengkapi rekomendasi tertulis dari tiap-tiap rayon.

Gambar 2 : Ketua Terpilih Komisariat PMII Sunan Kalijaga masa khidmat 2018-2019

Kemudian, beberapa waktu berjalan hingga Rabu 05 September 2018 dinihari, sidang dilanjutkan untuk proses persyaratan calon ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga, hingga rekomendasi akhir dari tiap rayon diperoleh hasil terdapat 3 nama calon ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga 2018-2019 yaitu sahabat Faisal Mustofa (Al-Biruni, FIS), sahabat Abror (Ibnu Sina, FMIPA), sahabat Rifqi (Al-Haddad, FT), sedangkan bakal calon yang lain gugur. Sidang dilanjutkan dengan persyaratan teknis lainnya terkait komitmen dan deklarasi calon untuk siap menjadi ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga 2018-2019. Pembahasan tata tertib yang ditutup kemudian dilaksanakan prosesi pemilihan kedua untuk memilih ketiga calon tersebut. Sebelumnya, pada pemilihan tahap pertama suara dimenangkan oleh sahabat Faisal Mustofa dengan perolehan 23 suara. Namun, pada pemilihan tahap kedua diperoleh hasil yang berbeda denga perolehan suara sahabat Abror (31 suara), sahabat Faisal Mustofa (26 suara) dan sahabat Rifqi (11 suara). Dengan demikian, perolehan suara tahap pertama tidak menentukan perolehan suara tahap kedua yang diprediksi awal bahwasanya sahabat Faisal Mustofa yang bakal terpilih sebagai ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga dengan melihat kesiapannya secara moral dan administratif rekomendasi dari rayonnya sendiri. Oleh karena itu, pengurus Rayon Al-Biruni menyikapi hasil RTK LVI PMII Komisariat Sunan Kalijaga yaitu :
  1. Usaha maksimal dalam memperjuangkan aspirasi internal warga rayon Al-Biruni dan koalisi dengan rayon lain, terkait suksesi menuju LIGA I dengan merekomendasikan sahabat Faisal Mustofa sebagai calon ketua PMII Komisariat Sunan Kalijaga yang justru gugur dalam suksesi tersebut.
  2. Komunikasi yang intensif jauh hari sebelum dan pelaksanaan RTK dengan rayon lain dalam membangun koalisi, mengharuskan menerima proses akhir RTK LVI dengan terpilihnya sahabat Abror dari rayon Ibnu Sina (FMIPA).
  3. Bersedia berkontribusi untuk PMII Komisariat Sunan Kalijaga masa khidmat 2018-2019.

Malang, 07 September 2018
PR. PMII Al-Biruni
ttd
M. Syarifuddin
Ketua

ttd
Suryaningsih
Sekretaris

Wednesday, 22 August 2018

Pelantikan Bersama Empat Rayon di Komisariat LIGA

Design by: Febri Adi

MALANG. Empat Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Kota Malang, yaitu Rayon Al Biruni (FIS), Rayon Al Ghozali (FIP), Rayon Al Maturidi (FS), dan Rayon Ibnu Nafis (FIK) pada Jum'at (17/08) kemarin resmi dilantik. Keempat rayon tersebut adalah rayon-rayon dari PMII Komisariat Sunan Kalijaga (Universitas Negeri Malang).

Empat nahkoda dari empat Rayon tersebut adalah Syarif Al Biruni, Fitra Al Ghozali, Ziyana Al Maturidi, dan Ramlah Ibnu Nafis.

Pelantikan berlangsung mulai pukul 19.30 WIB hingga pukul 22.00 WIB. Dengan stadium general diisi oleh Sahabat Muslim Paranto Noor Asoffa (Kepala Poliklinik UM).

"Alhamdulillah, pelantikan berjalan dengan lancar dan sangat meriah," kata Syarif Ketua Rayon PMII Al Biruni periode 2018-2019.

Pelantikan ini, lanjut Syarif, mengusung tema 'meningkatkan sinergitas kepengurusan dalam membentuk generasi Ulul Albab". Dengan harapan, semoga kepengurusan bisa solid, baik di internal rayon maupun dengan rayon-rayon lain, khususnya di lingkup Komisariat LIGA (Sunan Kalijaga). Generasi Ulul Albab adalah konsep dari Al Qur'an yang kemudian oleh PMII ditadabburi sehingga lahirlah  Tri Motto, Tri Khidmah, dan Tri Komitmen PMII.

Mahasiswa Jurusan Sejarah UM asal Nganjuk tersebut juga berharap bahwa para pengurus bisa semakin agresif dalam menggerakkan roda organisasi di setiap lini kehidupan mahasiswa. Baik dalam hal akademik, organisasi intra kampus, sosial, kebangsaan, maupun mengawal kebijakan publik dari birokrasi kampus dan pemerintah RI.

Hadir dalam acara tersebut Sahabat Fajar Ketua Komisariat LIGA, dan kader-kader perwakilan beberapa Rayon PMII se-Kota Malang.[]

Potong Tumpeng, Peresmian Basecamp Baru Rayon Al Biruni

Pemotongan Tumpeng oleh Ketua Kom LIGA diberikan Kepada Ketua Rayon Al Biruni

Sekretariat adalah tempat yang sangat penting bagi semua organisasi. Di sanalah para pengurus dapat berkumpul setiap waktu. Menjadi rumah kedua atau pun ketiga. Ikatan emosional pengurus yang sering bertemu dan berkumpul akan menjadi semakin kuat, dan itu dapat ditunjang dengan adanya sekretariat atau basecamp. Selain untuk tempat berkumpul, basecamp juga penting untuk fungsi kesekretariatan: surat-menyurat, arsip, tempat inventaris, dan kelengkapan organisasi lainnya. Itulah yang menjadi latarbelakang diresmikannya basecamp PMII Rayon Al Biruni (FIS UM) pada Kamis (16/08) kemarin.

Peresmian basecamp berlangung mulai pukul 19.30 WIB hingga 21.30 WIB sambil diisi dengan membaca sholawat diba' yang merupakan kegiatan rutin setiap malam Jum'at oleh LSO TPAI PMII Komisariat LIGA.

Sekitar 150 warga PMII se-Komisariat LIGA hadir dalam acara tersebut.

"Kemarin (acara peresmian basecamp, Red.) dihadiri sekitar 150 orang," kata Syarif, "Hingga kami kualahan dalam menjamu mereka. Jumlah segitu sangat jauh melebihi ekspektasi kami," ungkap Ketua Rayon PMII Al Biruni tersebut.

Basecamp yang baru PMII Rayon Al Biruni tersebut berada di Jl. Candi Blok II A No 388 RT 07/02 Klurahan Karang Besuki Kec. Sukun Kota Malang Jawa Timur,  Kode pos 65146.

Peresmian tersebut dihadiri Fajar Ketua Komisariat LIGA, Faisal Ketua Demisioner Rayon Al Biruni, dan puluhan kader PMII se-LIGA. Selain itu, tampak hadir pula calon anggota baru PMII yang merupakan mahasiswa baru di UM.[]

Sunday, 6 May 2018

Esai dari Social Awareness


Ia, Adalah Tempat Mu Kembali dan Pergi
Oleh: Khusnul Khotimah

Kau, mau kembali atau tidak?
Kau bergairah untuk beranjak atau hanya sekedar melakukan proses yang tak bermakna di negeri ini?
Wahai kau……
“Mahasiswa Zaman Now!”

Kalimat diatas bukan hanya abjad-abjad fiktif belaka, tapi kalimat di atas ialah sebuah pertanyaan atas peneguhan jati diri sesungguhnya sebagai pemuda Indonesia. Bersediakah kita membuka kaca mata secara kritis atas realitas saat ini? Kita lihat permasalah di Indonesia saat ini yang tidak hanya terperosok dalam permasalahan ekonomi, budaya, politik, namun permasalahan kesatuan negeri ini pun masih menjadi tranding topik. Kita, yang katanya adalah bangsa yang satu walau dengan keberagamannya, nyatanya masih menghadapi krisis kebangsaan yang akut. Realitanya  masih banyak kasus yang mengancam kesatuan negeri ini . Tak perlu jauh-jauh, di dalam dunia perkuliahan saja kita masih banyak mendapati mahasiswa zaman now yang lekat dengan sikap intoleransi, diskriminasi, dan egoisme yang berujung pada pergolakan yang dilatar belakangi kepentingan ideologi golongannya masing-masing.
Dalam sekup yang lebih luas kita akan banyak mendapati krisis kebangsaan yang melibatkan banyak aspek. Masih ingatkah kita akan tragedi kemanusiaan Syiah Sampang yang masyarakatnya dibunuh, rumahnya dibakar serta diusir dari kampung halamannya sendiri karena agama yang dianggap sesat oleh masyarakat lain? Sadarkah kita diskriminasi yang masih terjadi pada kaum etnis Tionghoa di Indonesia? Serta masih ada permasalahan lama tentang diskriminasi dan pengucilan terhadap keluarga tertuduh PKI yang sampai sekarang masih belum terselesaikan, bahkan dari pihak pemerintah sendiri juga belum merealisasikan penyelesaiannya.
Mahasiswa yang diberikan amanah pemangku julukan agent of change haruslah lebih berfikir rasional dan bersikap bijak dalam menyikapi kehidupan sosialnya yang  tak homogen sehingga tidak sampai menciptakan suatu konflik besar yang mengancam kehidupan berbangsa. Seharusnya kita memiliki rasa malu jika hari ini masih saja ribut dengan permasalahan kesatuan dan krisis kebhinekaan. Padalah sebenarnya kebhinekaan yang murni sudah ada sebelum kemerdekaan Indonesia yang tercermin pada Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda merupakan investasi keberhasilan Kemerdekaan Indonesia yang sampai saat ini masih terus diperingati.
Istilah Sumpah Pemuda baru  dimunculkan pertama kali pada 28 Oktober 1954 ketika Presiden Soekarno beserta Moh.Yamin membacakan Ikrar Pemuda dalam Kongres Bahasa di Medan. Saat itu semua yang hadir dalam kongres, terutama Presiden Soekarno serta para wartawan dengan spontan menyebutnya sebagai Sumpah Pemuda. Sementara pada tanggal 28 Oktober 1928 yang banyak disebut sebagai tonggak perayaan hari Sumpah Pemuda merupakan ikrar yang gagasan penyelenggaraannya ialah dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPI) dari  seluruh penjuru Indonesia, yang dikenal dengan Kongres Pemuda ke dua. Sedangkan Kongres  Pemuda pertama dilaksanakan pada tahun 1926 ketika para pemuda Indonesia mulai merumuskan tiga ikrar yang sampai kini kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin yang sekaligus sebagai otak dari ikrar tersebut yang didukung oleh para pemuda dari berbagai daerah.
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Bertumpah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia
Kita bisa menghayati tiap kalimat ikrar Sumpah Pemuda ini. Betapa strategi pikiran dan sikap yang sangat bermakna yang didasari oleh nasionalisme dan rasa cinta akan persatuan bangsa. Ketika ditengah-tengah suasana yang menekan, memanas dan genting, para pelaku dalam sejarah Sumpah Pemuda ini mampu mengenyampingkan kepentingan ideologi masing-masing, mendamaikan perbedaan agama, suku, ras, bahasa, budaya mereka demi tercapainya kemerdekaan Indonesia yang menjadi harapan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Dari sejarah Sumpah Pemuda ini seharusnya kita bisa belajar dan mengamalkan ikrarnya meski kita tidak ikut serta dalam pencetakan sejarah kala itu. Namun, nyatanya kita masih sibuk dengan isu SARA yang seharusnya hal-hal seperti ini sudah tidak pernah ada lagi di negeri kita. Harusnya kita sudah benar-benar memahami dam mengamalkan prinsip-prinsip Sumpah Pemuda. Inilah yang seharusnya menjadi jati diri kita sebagai Pemuda Indonesia. Ia, adalah tempat kita kembali untuk menengoka dan belajar sekaligus titik beranjak kita untuk melangkah maju. Mengingat Sumpah Pemuda merupakan ekspresi kebhinekaan yang sudah ada sejak pra kemerdekaan, yang mana perlu kita amalkan dan kita teruskan penjagaannya. Keadaan yang seperti inilah yang akan menutup konflik-konflik kebangsaan di Indonesia. Hal yang perlu kita camkan adalah bahwa Indonesia lahir dari keberagaman yang seharusnya tetap bisa harmonis. Seperti kata Gus Dur bahwa keragaman adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya.
Sekarang bagaimana caranya agar kita sebagai pemuda Indonesia terutama mahasiswa untuk berkembang, berfikiran visioner dan progresif demi kemajuan bangsa. Kita tengok Negara lain yang pemuda dan mahasiswanya sibuk dengan penemuan-penemuan produk baru yang menunjang kejayaan bangsanya. Ketika Negara lain ribut mencari cara untuk ke Mars (NASA: Pendobrak satelit pemantau planet) dan sibuk dengan perkembangan-perkembangan di berbagai bidang untuk kejayaan dan menciptakan solusi dari krisis serius negerinya. Bukan malah melepas kesatuan bangsa dan ter-auto fokus pada pencapaian akademik, tapi harusnya kita benar-benar menjaga jangan sampai ada konflik kebhinekaann lagi, sembari beranjak fokus menatap masa depan bangsa yang lebih jaya. Sebagai pemuda yang berevolusi pada kemodernan untuk perkembangan bangsa di desah zaman yang semakin maju dan penuh persainangan antar negara tanpa melupakan sejarah. Sikap bijak diperlukan untuk menjaga kesucian dan persatuan bangsa yang dicapai dengan penuh pengorbanan para pendahulu negeri.

“Wahai kau, mahasiswa Zaman Now
 Setelah kau kembali pada sejarah mu
 Bersedikah kau untuk beranjak pergi menuju proses dan perjuangan demi bangsa mu yang lebih maju?
 Tunjukkan darah juang mu sebagai mahasiswa yang dinantikan seluruh lapisan penghuni      negeri mu”.
 Karena itulah Jati Diri Mu di Negeri Tercinta Ini….

Penulis adalah anggota PMII Rayon Al-Biruni


Daftar Rujukan
Nisrina, Abu. 2014. Kronologi Tragedi Kemanusiaan Syiah Sampang (online) (Satuislam.org/humaniora/kronologi-tragedi-kemanusiaan-syiah-sampang/)
Anggraeni, Pipit. 2017. Sederet Fakta Tentang Sumpah Pemuda, Kids Zaman Now Wajib Tahu! (online) (http://malangtoday.net/malang-raya/fakta-sumpah-kids-zaman-now/)
Tanpa nama. 2015. Sejarah Sumpah Pemuda Singkat Lengkap (online) (sejarahrakyat.blogspot.co.id/2015/08/sejarah-sumpah-pemuda-singkat-lengkap.html?m=1)

Saturday, 5 May 2018

Khayal

KAYAL*

Aku ,juga bagian darimu
Harusnya, ku dapati bagian sepertimu
Patut yang dituntun
Wajar yang dikejar
Pantas yang digagas
Dulukudapati
Kata  layak benar-benar tercermin
Hanya  saja  dalam cermin cekung
Hingga bayangan yang ada bukan layak
Tapi, kayal
Kini, kudapati
Kata kayal tersebut perlahan berbalik
Merangkai kembali kata yang kami idamkan
Kata layak
Darimu kami mendapat nikmat
Berjuang dari kayal pada layak
Menuntut
Menuntut yang tak sekedar menuntun
Menuntut karena telah usai kewajibannya
Terima kasih biruni
Buat kami seperti ini

*Dewi Khoirun Nikmatus Zulaikah
Ibnu Nafis

Kuantum Senja untuk Biruni

By : Chusnul
Rayon Al-Biruni

Jika kau tanya tentang siapa yang mengadu tentang gundah.
Maka, akan ku jawab bahwa ia adalah aku.
Jika kau bertanya tentang siapa yang meleleh saat bersama.
Maka, akan ku jawab bahwa ia adalah aku.

Jika kau masih memperdebatkan, siapa yang merasa bahagia.
Maka, tetap akan ku jawab bahwa ia adalah aku.
Iya, aku.
Aku yang tak pernah bisa lepas dari keriuhan itu.

Diantara makhluk-makhluk yang Tuhan ciptakan dengan ketidak jelasannya.
Dengan semua hal-hal aneh yang membuatku merasa sedikit gila.
Hahaha, dengan bincangan imajinasi dan ideologi dilewat batas normal.
Asap rokok, dagelan, secangkir kopi di depan matanya masing-masing.

Riuh?
Iya.
Berisik?
Tidak salah.

Tapi kau, tahu? Aku selalu suka itu.
Menikmati waktu bersama tanpa ada ragu.
Demi Tuhan, hati ku sudah jatuh padamu.
Padamu yang aku berhasrat untuk mengindahkanmu.
Memoles gemulai pergerakanmu dengan ciri khasmu.
Aku ingin, sangat ingin memperjuangkan hal-hal cantik untukmu.
Untuk kalian. Ku ingin berikan kuantum senja untuk yang tercinta.
Kalian, Biruni yang telah ku pilih untuk ku cintai.



Selamat Hari Ulang Tahun Biruni ku...
Semoga yang terbaik selalu tersemogakan oleh Tuhan dan semesta.
Salam Pergerakan, Semangat perjuangan.
Love Biruni...

Refleksi: Ambisi, Revolusi, dan Jati Diei

Dalam lamunan ku bertanya,
Mengapa senja  harus  musnah, mengalah pada gulita malam?
Rona merah  keemasan lebur menjadi hitam
Lenyap  bersama cemas, abadi  menghidupi  gelap.

Dalam lamunan kumelamun,
Manusia menciptakan senja, bersama hati begitu mesrahnya
Malam tercipta atas kehendak dunia, bersama pesta  namun tak bahagia
Insan akan punah. Menyerah  pada semesta.

Dalam lamunan  kuterbangun,
Ternyata malam tak selamanya  gagah.
Takluk pada mentari, memohon ampun pada pagi

Manusia beradu dengan dunia yang semakin gila
Dibawah panji kuning keemasan, menghiasai  langit biru dan bumi
Bergerak pasti, diusia yang akan selalu baru  lagi.

Refleksi: ambisi, revolusi, danjatidiri.


SELAMAT HARLAH!
TETAP SEMANGAT, TAK MENGALAH PADA MALAM,
BERGERAK MEMBENTUK GERANASI ULUL ALBAB

Sawojajar, 21 April 2018
Fitrah Rayon Al-Ghozali

Harum Pergerakan

Dalam ayunan pergerakan,
rindu dan nestapa bertolak pikiran
Aku hendus harum bunga pergerakan,
menadah kasih pada jalanan
Dari perselingkuhan biasa,
sampai pada yg tak dapat baca
Hari fitrah yg penuh cita dan tak pernah suka
Dimana penjelmaan kembali di hadirkan dengan tawa
Hari itu menolak lupa, sebuah karya yg menjadi nyata
Perjalanan kisah yang menjadi menjadi kasih
Pada harum pergerakan yang takkan pernah menjadi duri
Selamat hari lahir Rayon PMII Al Biruni

Batu, 21 April 2018
Ali Bisri




Nama : Firdaus
Rayon : Ibnu Sina

Hujan pembawa perubahan
Detik terus berjalan bagai hujan yg turunnya tenang,
Tidak begitu deras, namun perlahan pasti
Cipratan airnya menghantarkan gelombang bunyi
Begitu nyaring merasuk dalam hati ini
Sesambil memejamkan mata, penuh hikmat merefleksikan diri
Sungguh sangat indah sekali.

Semoga sukses sahabat-sahabatku.
Tetap pegang prinsip"mu.
Dengarkan setiap kritik dan saran, untuk menghasilkan sebuah kesuksesan

Jadilah kader kader yang berani pertaruhkan harga diri, namun jangan kurangi jati diri. Memayuhayuningkanlahbawana dengan membrantas angkara murka.

Hati dan Organisasi


Dua hal yang saling mengisi
Tanpa ruang namun dengan arti
Tanpa celah namun sangat berarti
Dari hati kami memili jalan
Dari hati kami berjuang
Dari hati kami mengabdi bersama teman
Dari hati kami tak pernah berhenti menggengam tangan
Kami bertekad menerbangkan mimpi bersama
Kami bertekad mewarnai langit impian
Kami bertekad merajut sutera harapan
Kami bertekad menanam benih cita
Dengan do’a, harapan dan kerja keras kami berusaha
Kami berusaha menjahit benang demi benang
Merajut tiap untai harapan
Dan melupakan bulir keringat yang jatuh dari kepala yang terbakar mentari
Kami melihatmu maju
Walau halang dan rintang menghujam dari berbagai penjuru
Kami berjanji takkan membiarkanmu terhenti
Kami berjanji hati nuraniku takkan terhenti sampai disini



By: Dewi Khoirun Nikmatus Zulaikah
Ibnu Nafis

Monday, 5 February 2018

INTEGRATED INDUSTRIAL CONSEPT (IIC) DALAM PEMERATAAN DAN PEMBANGUNAN DAERAH PERBATASAN DI INDONESIA UNTUK MENGHADAPI MEA


Oleh; Rifki dan Newreal

Abstract
Boarder area has been the main focus in term of keeping the defence and safety of the country since the first independent day of Indonesia was declared. Recently in 2015, Asean Economic Community (AEC) Which allows all economic sectors to pass freely to any countries in South East Asia will be done. This AEC had been approved in ASEAN summit held in Bali on October 2003 by 10 countries in South East Asia Involved in ASEAN.  However, the biggest challenge faced by Indonesia is on the boarder area which becomes the access of any economic activities. Because of that reason, the lack of infrastructure provided and industrial area in that area become the main factor which should be cocerned because  without the internal strength through the equality of the independent resources and infrastructure development in Indonesia, the domination other countries is likely occured.

Keywords: Integrated Industrial, equitable, development, border areas.


Abstrak
Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang daerah perbatasan menjadi sorotan utama dalam menjaga ketahanan dan keamanan Negara. Terlebih tahun 2015 Masyarakat ekonomi Asean (MEA) akan diberlakukan. kegiatan Perekonomian dari berbagai sektor bebas keluar masuk lintas Negara di Asia Tenggara. 10 negara di Asia Tenggara telah bergabung dan menyepakati terbentuknya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) melalui Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bali pada bulan oktober 2003. Hambatan terbesar Indonesia dalam menghadapi MEA relatif ada pada daerah perbatasan yang menjadi akses keluar masuknya berbagai kegiatan perekonomian. Kurangnya Infrastruktur yang memadai dan kawasan industri di daerah perbatasan menjadi faktor utama yang harus diatasi. Tanpa adanya penguatan secara Internal melalui pengelolaan Sumber daya secara mandiri oleh Indonesia dengan pemerataan dan pembangunan, dominasi Negara lain akan terbentuk. 

Kata kunci: Integrated Industrial, Pemerataan, Pembagunan, Daerah Perbatasan

 Pendahuluan
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbesar dengan ±17.504 pulau dimilikinya. Sebagai negara kepulauan menjadi sebuah keuntungan dan kelebihan tersendiri tetapi tidak menuntup kemungkinan kelemahan juga dimiliki. Permasalahan tersebut adalah terdapat pada daerah perbatasan yang kurang mendapatkan pemerataan dan pembangunan secara industri dan infrastruktur. Permasalahan daerah perbatasan khususnya disepanjang garis tepi darat Indonesia dengan negera lain rata-rata adalah pada rendahnya aksesibility, terbatasnya sarana prasarana baik dalam aspek kesehatan atau perekonomian, rendahnya kualitas sumber daya manusia, dan belum optimalnya pembangunan dikawasan perbatasan.[1] Permasalahan tersebut merupakan masalah klasik dan pasti ada dalam setiap negara, khususnya pada negara kepulauan yang mempunyai tantangan kesejahteraan dan mobilitas sangat tinggi.
Realitasnya di daerah Entikong secara infrastruktur khususnya pada jalan raya yang masih 40 persen dari jalan paralel perbatasan Republik Indonesia dengan Malaysia sepanjang 1.900 KM.[2] Hal tersebut adalah salah satu contoh permasalahan yang ada di perbatasan Republik Indonesia, mengingat tidak hanya satu negara yang berbatasan langsung dengan Indonesia tetapi tiga negara untuk batas darat yaitu Malaysia, Papua New Guinea, dan Timor Leste. Sedangkan laut sebanyak 10 negara yang berbatasan langsung dengan Negara Indonesia.[3] Seiring dengan akan diberlakukannya MEA pada awal tahun ini tekanan arus keluar masuknya proses perekonomian negara lain secara kuantitas banyak terjadi di laut dan pelabuhan. Akan tetapi perbatasan daratan perlu di kelola dan diatur sedemikian baik agar tekanan luar minim.
Terkait dengan kesepakatan mengenai MEA oleh negara-negara ASEAN pada KKT Kuala Lumpur, Malaysia bulan Desember 1997 yang kemudian dilanjutkan pada KTT Bali, Indonesia bulan Oktober 2003 terdapat 10 negara yang bergabung yaitu Brunei Darussalam, Filipina, Indonesia, Kamboja, Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, Thailand, dan Vietnam. Masyarakat ekonomi Asean (MEA) diberlakukan pada awal tahun 2016. Indonesia perlu memperbaiki kondisi internal dan mempersiapkan menghadapi MEA terlebih melalui daerah perbatasan. Potensi perbatasan darat Republik Indonesia sangatlah banyak perlunya pengelolaan dan pemanfaatan sesuai amanat uudnri pasal 33 ayat 3 yang berbunyi “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat” dapat terwujud. Jika tidak ada pengelolaan secara mandiri oleh indonesia, tentu laju ekonomi akan merosot.
Negara yang tergabung dalam MEA dan berbatasan langsung secara darat oleh Indonesia adalah Malaysia. Secara administrasi, Indonesia-Malaysia berbatasan dipulau kalimantan meliputi dua provinsi yaitu kalimantan barat dan timur. Sedangkan batas geografisnya pulau kalimantan berbatasan dengan negara malaysia bagian sabah dan serawak memiliki panjang 1.885,3 KM.[4] selain itu berdasar pada perjanjian lintas batas Indonesia-Malaysia tahun 2006 disepakati 18 pintu batas Melihat posisi Indonesia secara menempati posisi 121 dari 185 negara dalam Indeks Pembangunan Manusia dan tertinggal dibawah dari negara Malaysia dengan peringkat 64.[5] Sehingga sudah terlihat kualitas pembangunan manusia Indonesia jauh dibawah Malaysia. Oleh karenanya konsep pemusatan industri bagi wilayah perbatasan khususnya Indonesia-Malaysia menjadi hal terpenting, selain dapat memajukan masyarakat sekitar karena adanya pengembangan ketrampilan dan ketenaga kerjaan, ekonomi, dan pengelolan Sumber daya alam dapat terkontrol langsung oleh negara Indonesia.
            Konsep pembaharuan dan pengendalian dalam proses menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dipandang perlu, terlebih pada banyak sekali dampak negatif yang terjadi jika secara internal Negara belum berjalan dan segala keperluan infrastrutur dan industri mandiri belum memadai untuk menunjang masyarakatnya. Sehingga diperlukan arah dan reorganisasi tata kelola daerah perbatasan. Beberapa rumusan masalah yang relevan diajukan dalam karya tulis ini, sebagai berikut: 1) bagaimana kondisi ekonomi dan perindustrian yang terdapat di daerah perbatasan Indonesia?; 2) bagaimana implikasi konsep integrated industrial terhadap pemerataan dan pembangunan daerah perbatasan Indonesia?; 3) bagaimana implikasi konsep integrated industrial dengan peraturan yang ada di Indonesia?.
Tujuan dan Maksud disusunnya karya tulis ini adalah untuk: 1) mengetahui kondisi ekonomi dan perindustrian yang terdapat di daerah perbatasan Indonesia; 2) Mengetahui implikasi konsep integrated industrial terhadap pemerataan dan pembangunan daerah perbatasan Indonesia; 3) mengetahui mengetahui implikasi konsep integrated industrial dengan peraturan yang ada di Indonesia. Adapun kegunaan dari karya tulis ini adalah: 1)  sebagai bahan pertimbangan  bagi pemerintah pusat dalam memutuskan kebijakan untuk menghadapi MEA sekaligus dalam untuk pembangunan daerah perbatasan; 2) sebagai masukan bagi masyarakat diluar daerah perbatasan agar sadar dan memiliki empati dalam membantu masyarakat di daerah perbatasan; 3) sebagai bahan referensi bagi peneliti yang berminat dalam pengembangan karya tulis ini; 4) sebagai sarana pengembangan bakat dan minat bagi kaum akademisi untuk menuangkan gagasan dan ide mengenai karya ini.

Kondisi Wilayah Perbatasan Indonesia
Wilayah perbatasan menjadi gerbang suatu negara untuk melakukan lintas batas berbagai sektor khususnya ekonomi oleh negara lain. Sehubungan dengan diberlakukannya MEA Indonesia harus mampu dan siap menghadapinya. Mengingat secara perekonomian Indonesia tergolong Miskin, sudah seharusnya dan mampu untuk memanfaatkanya agar kemajuan ekonomi tercapai. Akan tetapi perlu melihat dari aspek geografis Indonesia sebagai negara kepulauan yang harus berusaha membenahi daerah-daerah yang rawan dan belum mendapatkan pembangunan Infrastruktur yang memadai khususnya industri sebagai penunjang kemajuan ekonomi. Berikut adalah gambar kondisi daerah perbatasan dikawasan pulau Kalimantan secara geografis dan infrastrukturnya yaitu:
Gambar diambil dari http://google.com
Dari gambar diatas dapat dilihat dengan jelas kondisi secara batas negara Indonesia dari satelit yang berhimpitan langsung secara darat dengan malaysia. Selain itu kondisi infrastruktur yang belum memadai dan tidak layak digunakan sebagai jalur lalu lintas atau lintas batas negara. Sedangkan secara umum wilayah perbatasan Indonesia dari daftar pulau terluar sebagai berikut:[6]

No.
Nama Pulau
Kabupaten/
Kota
Provinsi
Negara yang berbatasan
1
P. Rondo
Sabang
 NAD
India
2
P. Berhala
Deli Serdang
 Sumatera Utara
Malaysia
3
P. Nipah
Batam
 Riau
Singapura
4
P. Sekatung
Natuna
 Riau
Vietnam
5
Kepulauan Anambas
Natuna
 Riau
Malaysia
6
P. Sebatik
Nunukan
Kalimantan Timur
Malaysia
7
P. Marore
Sangihe
 Sulawesi Utara 
Philipina
8
P. Miangas
Talaud
 Sulawesi Utara
Philipina
9
P. Fani
Sorong
 Papua
Palau
10
P. Fanildo
Biak
 Papua
Palau
11
P. Asubutun
MTB
 Maluku Tenggara
Australia
12
P. Batek
Kupang
 NTT
Timor-Timur
13
P. Wetar
MTB
 Maluku Tenggara
Timor-Timur

Berdasarkan tabel daftar perbatasan Indonesia dari pulau terluar tersebut, dapat dilihat bahwa negara Indonesia memiliki 13 pulau yang berbatasan langsung dengan negara lain, selain keamanan dan pertahanan kondisi sosial ekonomi perlu dibangun. Mengacu hasil sebuah analisis yang menyatakan bahwa pada umumnya studi tentang pengelolaan kawasan perbatasan teridentifikasi tiga isu maslah yang disoroti meliputi: 1) masalah penetapan garis batas atau alokasi, dellmitasi (laut), dan demakrasi (darat), 2) masalah keamanan kawasan perbatasan, dan 3) masalah administration atau pengembangan kawasan perbatasan.[7] Dari pernyataan tersebut masalah pertama yang dipaparkan mengenai garis batas negara, dimana menjadi faktor penyebab kesatuan secara wilayah dan kestabilan ekonomi dapat terganggu jika potensi daerah kurang dikelola dengan baik. Terlebih tidak sedikit perbatasan negara yang masih belum ada perjanjian batas, berikut adalah data status batas ZEE antara RI dengan negara lain,[8] yaitu:

Tabel. Status batas ZEE antara negara Indonesia dengan Negara Lain
No
Batas Zona Eksklusif Ekonomi (ZEE)
Status
Keterangan
1
RI–Malaysia
Belum disepakati
Belum ada perjanjian batas
2
RI–Vietnam
Telah disepakati
Kesepakatan di tingkat teknis, menunggu proses ratifikasi
3
RI–Fillipina