Rotating X-Steel Pointer

Tuesday, 8 May 2018

HARLAH KE 08 (THIS IS BIRUNI)









BIRUNI CUP 2018


Selamat Hari Ulang Tahun Al-Biruni yang Ke-VIII

Puncak Hari Ulang Tahun Al-Biruni yang Ke-VIII
Ahad, 22 April 2018
Albar cafe, Jl. Mertojoyo Selatan Malang
#savemoment

Bakti Sosial Rayon PMII Al-Biruni


Ucapan Ulang tahun pada Bakti Sosial di Panti Asuhan Yasibu






Vidio persembahan untuk Hari Ulang tahun Biruni yang ke 08

Sunday, 6 May 2018

Esai dari Social Awareness


Ia, Adalah Tempat Mu Kembali dan Pergi
Oleh: Khusnul Khotimah

Kau, mau kembali atau tidak?
Kau bergairah untuk beranjak atau hanya sekedar melakukan proses yang tak bermakna di negeri ini?
Wahai kau……
“Mahasiswa Zaman Now!”

Kalimat diatas bukan hanya abjad-abjad fiktif belaka, tapi kalimat di atas ialah sebuah pertanyaan atas peneguhan jati diri sesungguhnya sebagai pemuda Indonesia. Bersediakah kita membuka kaca mata secara kritis atas realitas saat ini? Kita lihat permasalah di Indonesia saat ini yang tidak hanya terperosok dalam permasalahan ekonomi, budaya, politik, namun permasalahan kesatuan negeri ini pun masih menjadi tranding topik. Kita, yang katanya adalah bangsa yang satu walau dengan keberagamannya, nyatanya masih menghadapi krisis kebangsaan yang akut. Realitanya  masih banyak kasus yang mengancam kesatuan negeri ini . Tak perlu jauh-jauh, di dalam dunia perkuliahan saja kita masih banyak mendapati mahasiswa zaman now yang lekat dengan sikap intoleransi, diskriminasi, dan egoisme yang berujung pada pergolakan yang dilatar belakangi kepentingan ideologi golongannya masing-masing.
Dalam sekup yang lebih luas kita akan banyak mendapati krisis kebangsaan yang melibatkan banyak aspek. Masih ingatkah kita akan tragedi kemanusiaan Syiah Sampang yang masyarakatnya dibunuh, rumahnya dibakar serta diusir dari kampung halamannya sendiri karena agama yang dianggap sesat oleh masyarakat lain? Sadarkah kita diskriminasi yang masih terjadi pada kaum etnis Tionghoa di Indonesia? Serta masih ada permasalahan lama tentang diskriminasi dan pengucilan terhadap keluarga tertuduh PKI yang sampai sekarang masih belum terselesaikan, bahkan dari pihak pemerintah sendiri juga belum merealisasikan penyelesaiannya.
Mahasiswa yang diberikan amanah pemangku julukan agent of change haruslah lebih berfikir rasional dan bersikap bijak dalam menyikapi kehidupan sosialnya yang  tak homogen sehingga tidak sampai menciptakan suatu konflik besar yang mengancam kehidupan berbangsa. Seharusnya kita memiliki rasa malu jika hari ini masih saja ribut dengan permasalahan kesatuan dan krisis kebhinekaan. Padalah sebenarnya kebhinekaan yang murni sudah ada sebelum kemerdekaan Indonesia yang tercermin pada Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda merupakan investasi keberhasilan Kemerdekaan Indonesia yang sampai saat ini masih terus diperingati.
Istilah Sumpah Pemuda baru  dimunculkan pertama kali pada 28 Oktober 1954 ketika Presiden Soekarno beserta Moh.Yamin membacakan Ikrar Pemuda dalam Kongres Bahasa di Medan. Saat itu semua yang hadir dalam kongres, terutama Presiden Soekarno serta para wartawan dengan spontan menyebutnya sebagai Sumpah Pemuda. Sementara pada tanggal 28 Oktober 1928 yang banyak disebut sebagai tonggak perayaan hari Sumpah Pemuda merupakan ikrar yang gagasan penyelenggaraannya ialah dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPI) dari  seluruh penjuru Indonesia, yang dikenal dengan Kongres Pemuda ke dua. Sedangkan Kongres  Pemuda pertama dilaksanakan pada tahun 1926 ketika para pemuda Indonesia mulai merumuskan tiga ikrar yang sampai kini kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin yang sekaligus sebagai otak dari ikrar tersebut yang didukung oleh para pemuda dari berbagai daerah.
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Bertumpah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia
Kita bisa menghayati tiap kalimat ikrar Sumpah Pemuda ini. Betapa strategi pikiran dan sikap yang sangat bermakna yang didasari oleh nasionalisme dan rasa cinta akan persatuan bangsa. Ketika ditengah-tengah suasana yang menekan, memanas dan genting, para pelaku dalam sejarah Sumpah Pemuda ini mampu mengenyampingkan kepentingan ideologi masing-masing, mendamaikan perbedaan agama, suku, ras, bahasa, budaya mereka demi tercapainya kemerdekaan Indonesia yang menjadi harapan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Dari sejarah Sumpah Pemuda ini seharusnya kita bisa belajar dan mengamalkan ikrarnya meski kita tidak ikut serta dalam pencetakan sejarah kala itu. Namun, nyatanya kita masih sibuk dengan isu SARA yang seharusnya hal-hal seperti ini sudah tidak pernah ada lagi di negeri kita. Harusnya kita sudah benar-benar memahami dam mengamalkan prinsip-prinsip Sumpah Pemuda. Inilah yang seharusnya menjadi jati diri kita sebagai Pemuda Indonesia. Ia, adalah tempat kita kembali untuk menengoka dan belajar sekaligus titik beranjak kita untuk melangkah maju. Mengingat Sumpah Pemuda merupakan ekspresi kebhinekaan yang sudah ada sejak pra kemerdekaan, yang mana perlu kita amalkan dan kita teruskan penjagaannya. Keadaan yang seperti inilah yang akan menutup konflik-konflik kebangsaan di Indonesia. Hal yang perlu kita camkan adalah bahwa Indonesia lahir dari keberagaman yang seharusnya tetap bisa harmonis. Seperti kata Gus Dur bahwa keragaman adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya.
Sekarang bagaimana caranya agar kita sebagai pemuda Indonesia terutama mahasiswa untuk berkembang, berfikiran visioner dan progresif demi kemajuan bangsa. Kita tengok Negara lain yang pemuda dan mahasiswanya sibuk dengan penemuan-penemuan produk baru yang menunjang kejayaan bangsanya. Ketika Negara lain ribut mencari cara untuk ke Mars (NASA: Pendobrak satelit pemantau planet) dan sibuk dengan perkembangan-perkembangan di berbagai bidang untuk kejayaan dan menciptakan solusi dari krisis serius negerinya. Bukan malah melepas kesatuan bangsa dan ter-auto fokus pada pencapaian akademik, tapi harusnya kita benar-benar menjaga jangan sampai ada konflik kebhinekaann lagi, sembari beranjak fokus menatap masa depan bangsa yang lebih jaya. Sebagai pemuda yang berevolusi pada kemodernan untuk perkembangan bangsa di desah zaman yang semakin maju dan penuh persainangan antar negara tanpa melupakan sejarah. Sikap bijak diperlukan untuk menjaga kesucian dan persatuan bangsa yang dicapai dengan penuh pengorbanan para pendahulu negeri.

“Wahai kau, mahasiswa Zaman Now
 Setelah kau kembali pada sejarah mu
 Bersedikah kau untuk beranjak pergi menuju proses dan perjuangan demi bangsa mu yang lebih maju?
 Tunjukkan darah juang mu sebagai mahasiswa yang dinantikan seluruh lapisan penghuni      negeri mu”.
 Karena itulah Jati Diri Mu di Negeri Tercinta Ini….

Penulis adalah anggota PMII Rayon Al-Biruni


Daftar Rujukan
Nisrina, Abu. 2014. Kronologi Tragedi Kemanusiaan Syiah Sampang (online) (Satuislam.org/humaniora/kronologi-tragedi-kemanusiaan-syiah-sampang/)
Anggraeni, Pipit. 2017. Sederet Fakta Tentang Sumpah Pemuda, Kids Zaman Now Wajib Tahu! (online) (http://malangtoday.net/malang-raya/fakta-sumpah-kids-zaman-now/)
Tanpa nama. 2015. Sejarah Sumpah Pemuda Singkat Lengkap (online) (sejarahrakyat.blogspot.co.id/2015/08/sejarah-sumpah-pemuda-singkat-lengkap.html?m=1)

Saturday, 5 May 2018

Karya Puisi dari Lomba Puisi dalam Rangka Harlah Rayon Al-Biruni VIII



Dewi Khoirun Nikmatus Zulaikah
Ibnu Nafis
KAYAL

Aku ,juga bagian darimu
Harusnya, ku dapati bagian sepertimu
Patut yang dituntun
Wajar yang dikejar
Pantas yang digagas
Dulukudapati
Kata  layak benar-benar tercermin
Hanya  saja  dalam cermin cekung
Hingga bayangan yang ada bukan layak
Tapi, kayal
Kini, kudapati
Kata kayal tersebut perlahan berbalik
Merangkai kembali kata yang kami idamkan
Kata layak
Darimu kami mendapat nikmat
Berjuang dari kayal pada layak
Menuntut
Menuntut yang tak sekedar menuntun
Menuntut karena telah usai kewajibannya
Terima kasih biruni
Buat kami seperti ini


            "Kuantum Senja untuk Biruni"
By : Chusnul
Rayon Al-Biruni

Jika kau tanya tentang siapa yang mengadu tentang gundah.
Maka, akan ku jawab bahwa ia adalah aku.
Jika kau bertanya tentang siapa yang meleleh saat bersama.
Maka, akan ku jawab bahwa ia adalah aku.

Jika kau masih memperdebatkan, siapa yang merasa bahagia.
Maka, tetap akan ku jawab bahwa ia adalah aku.
Iya, aku.
Aku yang tak pernah bisa lepas dari keriuhan itu.

Diantara makhluk-makhluk yang Tuhan ciptakan dengan ketidak jelasannya.
Dengan semua hal-hal aneh yang membuatku merasa sedikit gila.
Hahaha, dengan bincangan imajinasi dan ideologi dilewat batas normal.
Asap rokok, dagelan, secangkir kopi di depan matanya masing-masing.

Riuh?
Iya.
Berisik?
Tidak salah.

Tapi kau, tahu? Aku selalu suka itu.
Menikmati waktu bersama tanpa ada ragu.
Demi Tuhan, hati ku sudah jatuh padamu.
Padamu yang aku berhasrat untuk mengindahkanmu.
Memoles gemulai pergerakanmu dengan ciri khasmu.
Aku ingin, sangat ingin memperjuangkan hal-hal cantik untukmu.
Untuk kalian. Ku ingin berikan kuantum senja untuk yang tercinta.
Kalian, Biruni yang telah ku pilih untuk ku cintai.



Selamat Hari Ulang Tahun Biruni ku...
Semoga yang terbaik selalu tersemogakan oleh Tuhan dan semesta.
Salam Pergerakan, Semangat perjuangan.
Love Biruni...


REFLEKSI: AMBISI, REVOLUSI, DAN JATI DIRI.
Fitrah
Rayon Al-Ghozali
Dalam lamunan ku bertanya,
Mengapa senja  harus  musnah, mengalah pada gulita malam?
Rona merah  keemasan lebur menjadi hitam
Lenyap  bersama cemas, abadi  menghidupi  gelap.

Dalam lamunan kumelamun,
Manusia menciptakan senja, bersama hati begitu mesrahnya
Malam tercipta atas kehendak dunia, bersama pesta  namun tak bahagia
Insan akan punah. Menyerah  pada semesta.

Dalam lamunan  kuterbangun,
Ternyata malam tak selamanya  gagah.
Takluk pada mentari, memohon ampun pada pagi

Manusia beradu dengan dunia yang semakin gila
Dibawah panji kuning keemasan, menghiasai  langit biru dan bumi
Bergerak pasti, diusia yang akan selalu baru  lagi.

Refleksi: ambisi, revolusi, danjatidiri.


SELAMAT HARLAH!
TETAP SEMANGAT, TAK MENGALAH PADA MALAM,
BERGERAK MEMBENTUK GERANASI ULUL ALBAB

Sawojajar, 21 April 2018


Ali Bisri
Komisariat

                                  Harum pergerakan
Dalam ayunan pergerakan,
rindu dan nestapa bertolak pikiran
Aku hendus harum bunga pergerakan,
menadah kasih pada jalanan
Dari perselingkuhan biasa,
sampai pada yg tak dapat baca
Hari fitrah yg penuh cita dan tak pernah suka
Dimana penjelmaan kembali di hadirkan dengan tawa
Hari itu menolak lupa, sebuah karya yg menjadi nyata
Perjalanan kisah yang menjadi menjadi kasih
Pada harum pergerakan yang takkan pernah menjadi duri
Selamat hari lahir Rayon PMII Al Biruni

Batu, 21 April 2018




Nama : Firdaus
Rayon : Ibnu Sina

Hujan pembawa perubahan
Detik terus berjalan bagai hujan yg turunnya tenang,
Tidak begitu deras, namun perlahan pasti
Cipratan airnya menghantarkan gelombang bunyi
Begitu nyaring merasuk dalam hati ini
Sesambil memejamkan mata, penuh hikmat merefleksikan diri
Sungguh sangat indah sekali.

Semoga sukses sahabat-sahabatku.
Tetap pegang prinsip"mu.
Dengarkan setiap kritik dan saran, untuk menghasilkan sebuah kesuksesan

Jadilah kader kader yang berani pertaruhkan harga diri, namun jangan kurangi jati diri. Memayuhayuningkanlahbawana dengan membrantas angkara murka.


Dewi Khoirun Nikmatus Zulaikah
Ibnu Nafis
Hati dan organisasi
Dua hal yang saling mengisi
Tanpa ruang namun dengan arti
Tanpa celah namun sangat berarti
Dari hati kami memili jalan
Dari hati kami berjuang
Dari hati kami mengabdi bersama teman
Dari hati kami tak pernah berhenti menggengam tangan
Kami bertekad menerbangkan mimpi bersama
Kami bertekad mewarnai langit impian
Kami bertekad merajut sutera harapan
Kami bertekad menanam benih cita
Dengan do’a, harapan dan kerja keras kami berusaha
Kami berusaha menjahit benang demi benang
Merajut tiap untai harapan
Dan melupakan bulir keringat yang jatuh dari kepala yang terbakar mentari
Kami melihatmu maju
Walau halang dan rintang menghujam dari berbagai penjuru
Kami berjanji takkan membiarkanmu terhenti
Kami berjanji hati nuraniku takkan terhenti sampai disini