Rotating X-Steel Pointer

Sunday, 6 May 2018

Esai dari Social Awareness


Ia, Adalah Tempat Mu Kembali dan Pergi
Oleh: Khusnul Khotimah

Kau, mau kembali atau tidak?
Kau bergairah untuk beranjak atau hanya sekedar melakukan proses yang tak bermakna di negeri ini?
Wahai kau……
“Mahasiswa Zaman Now!”

Kalimat diatas bukan hanya abjad-abjad fiktif belaka, tapi kalimat di atas ialah sebuah pertanyaan atas peneguhan jati diri sesungguhnya sebagai pemuda Indonesia. Bersediakah kita membuka kaca mata secara kritis atas realitas saat ini? Kita lihat permasalah di Indonesia saat ini yang tidak hanya terperosok dalam permasalahan ekonomi, budaya, politik, namun permasalahan kesatuan negeri ini pun masih menjadi tranding topik. Kita, yang katanya adalah bangsa yang satu walau dengan keberagamannya, nyatanya masih menghadapi krisis kebangsaan yang akut. Realitanya  masih banyak kasus yang mengancam kesatuan negeri ini . Tak perlu jauh-jauh, di dalam dunia perkuliahan saja kita masih banyak mendapati mahasiswa zaman now yang lekat dengan sikap intoleransi, diskriminasi, dan egoisme yang berujung pada pergolakan yang dilatar belakangi kepentingan ideologi golongannya masing-masing.
Dalam sekup yang lebih luas kita akan banyak mendapati krisis kebangsaan yang melibatkan banyak aspek. Masih ingatkah kita akan tragedi kemanusiaan Syiah Sampang yang masyarakatnya dibunuh, rumahnya dibakar serta diusir dari kampung halamannya sendiri karena agama yang dianggap sesat oleh masyarakat lain? Sadarkah kita diskriminasi yang masih terjadi pada kaum etnis Tionghoa di Indonesia? Serta masih ada permasalahan lama tentang diskriminasi dan pengucilan terhadap keluarga tertuduh PKI yang sampai sekarang masih belum terselesaikan, bahkan dari pihak pemerintah sendiri juga belum merealisasikan penyelesaiannya.
Mahasiswa yang diberikan amanah pemangku julukan agent of change haruslah lebih berfikir rasional dan bersikap bijak dalam menyikapi kehidupan sosialnya yang  tak homogen sehingga tidak sampai menciptakan suatu konflik besar yang mengancam kehidupan berbangsa. Seharusnya kita memiliki rasa malu jika hari ini masih saja ribut dengan permasalahan kesatuan dan krisis kebhinekaan. Padalah sebenarnya kebhinekaan yang murni sudah ada sebelum kemerdekaan Indonesia yang tercermin pada Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda merupakan investasi keberhasilan Kemerdekaan Indonesia yang sampai saat ini masih terus diperingati.
Istilah Sumpah Pemuda baru  dimunculkan pertama kali pada 28 Oktober 1954 ketika Presiden Soekarno beserta Moh.Yamin membacakan Ikrar Pemuda dalam Kongres Bahasa di Medan. Saat itu semua yang hadir dalam kongres, terutama Presiden Soekarno serta para wartawan dengan spontan menyebutnya sebagai Sumpah Pemuda. Sementara pada tanggal 28 Oktober 1928 yang banyak disebut sebagai tonggak perayaan hari Sumpah Pemuda merupakan ikrar yang gagasan penyelenggaraannya ialah dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPI) dari  seluruh penjuru Indonesia, yang dikenal dengan Kongres Pemuda ke dua. Sedangkan Kongres  Pemuda pertama dilaksanakan pada tahun 1926 ketika para pemuda Indonesia mulai merumuskan tiga ikrar yang sampai kini kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Rumusan Sumpah Pemuda ditulis oleh Moehammad Yamin yang sekaligus sebagai otak dari ikrar tersebut yang didukung oleh para pemuda dari berbagai daerah.
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Bertumpah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia
Kami Poetra dan Poetri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia
Kita bisa menghayati tiap kalimat ikrar Sumpah Pemuda ini. Betapa strategi pikiran dan sikap yang sangat bermakna yang didasari oleh nasionalisme dan rasa cinta akan persatuan bangsa. Ketika ditengah-tengah suasana yang menekan, memanas dan genting, para pelaku dalam sejarah Sumpah Pemuda ini mampu mengenyampingkan kepentingan ideologi masing-masing, mendamaikan perbedaan agama, suku, ras, bahasa, budaya mereka demi tercapainya kemerdekaan Indonesia yang menjadi harapan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Dari sejarah Sumpah Pemuda ini seharusnya kita bisa belajar dan mengamalkan ikrarnya meski kita tidak ikut serta dalam pencetakan sejarah kala itu. Namun, nyatanya kita masih sibuk dengan isu SARA yang seharusnya hal-hal seperti ini sudah tidak pernah ada lagi di negeri kita. Harusnya kita sudah benar-benar memahami dam mengamalkan prinsip-prinsip Sumpah Pemuda. Inilah yang seharusnya menjadi jati diri kita sebagai Pemuda Indonesia. Ia, adalah tempat kita kembali untuk menengoka dan belajar sekaligus titik beranjak kita untuk melangkah maju. Mengingat Sumpah Pemuda merupakan ekspresi kebhinekaan yang sudah ada sejak pra kemerdekaan, yang mana perlu kita amalkan dan kita teruskan penjagaannya. Keadaan yang seperti inilah yang akan menutup konflik-konflik kebangsaan di Indonesia. Hal yang perlu kita camkan adalah bahwa Indonesia lahir dari keberagaman yang seharusnya tetap bisa harmonis. Seperti kata Gus Dur bahwa keragaman adalah keniscayaan akan hukum Tuhan atas ciptaan-Nya.
Sekarang bagaimana caranya agar kita sebagai pemuda Indonesia terutama mahasiswa untuk berkembang, berfikiran visioner dan progresif demi kemajuan bangsa. Kita tengok Negara lain yang pemuda dan mahasiswanya sibuk dengan penemuan-penemuan produk baru yang menunjang kejayaan bangsanya. Ketika Negara lain ribut mencari cara untuk ke Mars (NASA: Pendobrak satelit pemantau planet) dan sibuk dengan perkembangan-perkembangan di berbagai bidang untuk kejayaan dan menciptakan solusi dari krisis serius negerinya. Bukan malah melepas kesatuan bangsa dan ter-auto fokus pada pencapaian akademik, tapi harusnya kita benar-benar menjaga jangan sampai ada konflik kebhinekaann lagi, sembari beranjak fokus menatap masa depan bangsa yang lebih jaya. Sebagai pemuda yang berevolusi pada kemodernan untuk perkembangan bangsa di desah zaman yang semakin maju dan penuh persainangan antar negara tanpa melupakan sejarah. Sikap bijak diperlukan untuk menjaga kesucian dan persatuan bangsa yang dicapai dengan penuh pengorbanan para pendahulu negeri.

“Wahai kau, mahasiswa Zaman Now
 Setelah kau kembali pada sejarah mu
 Bersedikah kau untuk beranjak pergi menuju proses dan perjuangan demi bangsa mu yang lebih maju?
 Tunjukkan darah juang mu sebagai mahasiswa yang dinantikan seluruh lapisan penghuni      negeri mu”.
 Karena itulah Jati Diri Mu di Negeri Tercinta Ini….

Penulis adalah anggota PMII Rayon Al-Biruni


Daftar Rujukan
Nisrina, Abu. 2014. Kronologi Tragedi Kemanusiaan Syiah Sampang (online) (Satuislam.org/humaniora/kronologi-tragedi-kemanusiaan-syiah-sampang/)
Anggraeni, Pipit. 2017. Sederet Fakta Tentang Sumpah Pemuda, Kids Zaman Now Wajib Tahu! (online) (http://malangtoday.net/malang-raya/fakta-sumpah-kids-zaman-now/)
Tanpa nama. 2015. Sejarah Sumpah Pemuda Singkat Lengkap (online) (sejarahrakyat.blogspot.co.id/2015/08/sejarah-sumpah-pemuda-singkat-lengkap.html?m=1)