Rotating X-Steel Pointer

Tuesday, 13 November 2018

PANCASILA SEBAGAI MODEL PENDEKATAN RESOLUSI KONFLIK DI INDONESIA


           Kondisi damai, dan harmonis merupakan sebuah kondisi yang diidamkan oleh semua manusia dimuka bumi tidak terkecuali di Indonesia. Kondisi damai dapat digambarkan sebagai keadaan yang tenang, aman dan tentram tanpa adanya pertikaian sehingga menimbulkan perasaan bahagia bagi manusia. Sayangnya dikarenakan manusia dikodratkan sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dengan manusia lain, terjadinya sebuah pertentangan (konflik) tidak bisa dihindari.
            Menurut kamus Oxford, kata conflict dapat didefinisikan sebagai keadaan ketidaksepakatan yang serius, dan berlangsung secara berlarut-larut. Sedangkan menurut kamus Webster kata conflict didefinisikan sebagai sebuah perjuangan, peperangan antara beberapa pihak. Pruitt&Rubin mendefinisikan konflik sebagai persepsi mengenai kepentingan yang berbeda, atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai secara simultan. Berdasarkan berbagai definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa konflik adalah sebuah keadaan pertentangan yang terjadi sebagai akibat ketidaksepakatan antara satu pihak dengan pihak yang lain.
            Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki tingkat kemajemukan tinggi, baik itu dari segi ras, suku, dan agama, melebihi Amerika Serikat yang mencitrakan diri sebagai negara multikultur. Kemajemukan Indonesia tersebut ibarat sebuah pisau bermata ganda, disatu sisi kemajemukan tersebut bisa menjadi sebuah bekal menjadikan Indonesia sebagai negara yang besar, namun disisi lain kemajemukan tersebut juga menjadi salah satu penyebab berbagai konflik yang selama ini terjadi. Jika diruntut dari sejarah Indonesia semenjak memproklamirkan kemerdekaannya, berbagai konflik baik antar golongan, antar suku, dan antar agama terus mewarnai perjalanan Indonesia selama 72 tahun ini. Berbagai contoh konflik itu seperti konflik bentuk negara Komunis (PKI) versus Pancasila, Islam (DI/TII, GAM) versus Pancasila, kemudian konflik suku antara Dayak versus Madura (2001) dan Lampung versus Bali Pendatang (2009), kemudian konflik agama yakni peristiwa Poso (Islam versus Kristen) tahun 1998-2001, serta masih banyak lagi konflik yang pernah mewarnai perjalanan negara Indonesia.
            Indonesia sesungguhnya telah memiliki sebuah sistem nilai, moral, dan dasar yang dapat dijadikan pedoman dalam menengahi berbagai permasalahan yang terjadi di Indonesia, yakni Pancasila. Pancasila semenjak awal dirumuskan dan disahkan pada 1 Juni 1945 merupakan kesepakatan bersama antara berbagai kelompok agama dan suku untuk mencapai sebuah negara yang ideal. Semenjak awal dirumuskan, para pendiri bangsa telah menyadari bahwa seluruh aspirasi dari berbagai kelompok,suku, dan agama harus diwadahi dan terhindar dari permasalahan yang dapat menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia, sayangnya penerimaan dan penerapan nilai-nilai pancasila hingga kini masih terus mengalami dinamika. Pancasila sejatinya sudah menjadi sistem negara yang final dan tidak boleh dipertanyakan lagi mengenai kecocokan dengan kondisi negara Indonesia, dikarenakan Pancasila sudah dirumuskan sedemikian rupa untuk pas dengan kemajemukan masyarakat Indonesia. Seperti diungkapkan oleh KH. Marzuki Mustamar dalam sebuah ceramah bahwa Pancasila ibaratkan sebuah air putih yang mampu untuk diminum oleh orang sehat maupun orang sakit, berbeda dengan berbagai minuman lain seperti kopi, teh, susu, dan variasi lainnya yang diibaratkan sebagai ideologi-ideologi lain yang belum tentu bisa diminum (diterima) oleh masyarakat lain.
            Menerima dan menerapkan Pancasila sebagai idelogi dan falasah hidup bangsa dalam kehidupan keseharian sebagai upaya juru damai dan menetralisir konflik sesungguhnya tidak semudah dalam teori. Pengalaman masa lampau yang pernah salah dalam menafsirkan Pancasila hanya untuk digunakan sebagai sebuah doktrin justru malah menimbulkan konflik lebih lanjut. Dimasa kini semua pihak harus mengingat jika Pancasila adalah sebuah ideologi terbuka yang mana nilai mutlak yang tak boleh diganggu gugat adalah Pancasila dalam nilai dasar sedangkan Pancasila dalam nilai praksis (penerapan keseharian) haruslah lebih luwes dan mampu dimaknai terbuka oleh semua pihak supaya tidak berpotensi disalahgunakan untuk memeperteguh kekuasaan semata yang kemudian semakin memperbesar api konflik di negeri ini.
            Kesimpulannya konflik merupakan sebuah keniscayaan dalam perjalanan kehidupan setiap bangsa, karena disisi positifnya konflik bisa memperkuat kesatuan sebuah bangsa, namun juga memiliki sisi negative ketika tidak mampu ditangani. Salah satu solusi damai dan penyelesaian konflik khususnya yang berkaitan dengan konflik SARA dinegeri ini adalah penerimaan secara multak Pancasila sebagai sistem nilai dasar final, namun penerimaan final tersebut hanya pada tataran nilai dasar dan nilai instrumental, sedangkan pada tataran praksis haruslah selalu luwes dan bebas ditafsirkan oleh seluruh warga negara Indonesia.
Daftar Rujukan
Merriam-Webster Incorprated. 1995. Merriam-Webster’s Pocket Dictionary.Massachusetts: Merriam-Webster Incorporated.
Oxford University Press. 2005. Oxford Learner’s Pocket Dictionary. Oxford: Oxford University Press
Pruitt, Dean G & Rubi, J.Z. 2009. Teori Konflik Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Tongat. 2012. Pancasila Sebagai Dasar Falsafah Negara dan Makna Filosofinya Dalam   Pembaharuan Hukum Pidana Nasional, (Online), (http://media.neliti.com > publication), diakses 24 Januari 2018.




Sunday, 11 November 2018

Pahlawan Dalam Perspektif Zaman Now

Pahlawan adalah siapapun yang mempunyai nilai-nilai kebaikan dan kebermanfaatan baik untuk dirinya sendiri serta untuk Bangsa dan Negara Republik Indonesia.





Monday, 29 October 2018

Diskusi dan Refleksi 90 tahun "Sumpah Pemuda"

KENANGAN: MENGENANG atau DIKENANG
Oleh: M. Ridwan Saidi
Biruni Voice tema refleksi Sumpah Pemuda era milineal serta memperingati 90 tahun Sumpah Pemuda 
Habis manis, sepah dibuang. Kira-kira seperti itu peribahasa yang sering kita baca, dengar, bahkan kita ucapkan. Banyak yang beranggapan bahwa peribahasa itu digunakan saat manusia melakukan tindakan semena-mena kepada manusia lainnya, bersikap tak adil, bahkan serakah! Tidak ada masalah dalam peribahasa itu, memang benar adanya jika manusia serakah, pantas dikatakan seperti itu. Namun yang menjadi menarik adalah memaknai peribahasa itu dengan sangat mudah, di luar kepala. Maksudnya gini, kita ini sekarang sering lupa bahwa yang lebih penting untuk diambil itu isinya, bukan kulitnya. Akhirnya banyak pemuda sekarang yang mudah terpengaruh, lalu mempengaruhi, dan meninggalkannya tanpa ada tanggung jawab yang berarti. Dalam peribahasa yang sangat sering kita dengar itu, siapa pemuda yang tak memahami maknanya? Semua pasti mengerti dan paham maksud dari peribahasa tadi. Namun sangat disayangkan bahwa pemahamannya cukup berhenti disana, hanya sedikit pemuda yang enggan untuk tetap terus memahami pemaknaan-pemaknaan yang lain.
Pemuda masa kini sangat berbeda dengan pemuda masa lalu, walaupun ada keterkaitan di dalamnya (jika tidak ada pemuda masa lalu, maka tidak akan ada pemuda masa kini). Namun banyak pemuda yang sudah melupakan sejarah, mereka bilang sejarah itu kuno, tidak berkembang, bukan zamannya, gagal move on, bahkan menjadi Tuhan dadakan – seperti mengatakan Pancasila dan UUD NRI 1945 itu banyak menimbulkan mudhorot – dan lain sebagainya. Hingga akhirnya, dengan pikiran yang sangat mudah, dangkal, dan sange, pemuda pengikut mukidi lebih memilih pemerintah yang harus berlandaskan khilafah Islamiyah, supaya semuanya kembali kepada Al-Qur’an dan hadits yang menurut mereka (secara tak sadar) memahami mushaf dengan sebatas tekstual. Tentu ini akan menjadi degradasi Pemuda/i sebagai tonggak estafet eksistensi negara.
Ada satu kisah dalam peristiwa bersejarah di negeri Nusantara ini, yaitu Sumpah Pemuda. Jika kita pahami isi 3 (tiga) butir sumpah yang diucapkan pada 28 Oktober 1928, "pertama, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia, kedua, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia dan ketiga, mendjoejidjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia ", maka perlu kita ambil intisari dari perilaku kita saat ini, yakni menumbuhkan kecintaan dan rasa memiliki Indonesia yang perlu dimanifestasikan dari waktu ke waktu. Tentu semua itu bertujuan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik, maju, dan terus berkembang hingga mampu bersaing dengan bangsa lain, tidak terjajah lagi. Jadi (seharusnya) peringatan-peringatan hari besar nasional tidak hanya dikenang lewat kegiatan seremonial saja, lalu bangga karena libur sekolah atau libur kerja.
Memperingati hari Sumpah Pemuda berarti mengingat kembali perjuangan para muda-mudi terdahulu yang dikemas dengan nama Kongres Pemuda II (28 Oktober 1928). Sejak dulu sudah ada organisasi pemuda, dan sejak itu juga sudah ada Perhimpunan Pelajar Pelajar Indoneisa (PPPI). Kongres yang dihadiri oleh wakil organisasi kepemudaan seperti: Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda tiong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie itu bertujuan untuk melakukan sumpah – yang saat ini tercantum dalam tiga butir isi Sumpah Pemuda tadi – guna memperjuangkan bangsa ini. Banyak opini yang dilontarkan saat kongres berlangsung selama 3 hari itu, hari pertama membahas suatu keinginan untuk bersatu atau melahirkan persatuan, jika kita bersatu akan muncul suatu kekuatan tersendiri untuk merdeka. yang kedua yakni tentang pendidikan, dimana setiap anak yang lahir harus mendapatkan pendidikan dengan konsep kemanusiaan dan kebangsaan, baik itu di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Hal ini bertujuan agar anak menjadi manusia yang cerdas dan disiplin dalam segala hal. Yang terakhir adalah membahas tentang rasa cinta tanah air dengan menanamkan prinsip nasionalisme dan demokrasi.
Peristiwa itu sudah terjadi 90 tahun yang lalu, namun dampak yang diberikan sangat terasa hingga sekarang. Banyak sekali manfaat yang dapat kita ambil dari peristiwa Sumpah Pemuda, namun apakah kita sudah memaknai isi Sumpah Pemuda itu? Apakah kita (sebagai pemuda) sudah merencanakan dan menerapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini? Tentu itu akan menjadi pertanyaan yang harus dijawab oleh masing-masing dari kita. Bahkan sebagian pemuda sudah merealisasikannya.
Terkait kenangan bangsa yang sangat monumental ini, perlukah kita untuk tetap terus mengenangnya? Saya rasa, akan lebih baik jika pemuda zaman milineal seperti sekarang untuk mengenangnya melalui diskusi dan refleksi atau yang sejenisnya guna memaknai sumpah pemuda yang pernah terjadi pada negeri dengan kekayaan SDA ini, selanjutnya tidak berhenti disana, melainkan kita lakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat lainnya, minimal untuk diri sendiri, keluarga, sahabat, bangsa, dan negara yang multikultural ini. Harus!
Hari ini adalah hari yang berbeda dari kemarin-kemarin, dulu tidak ada media menarik seperti medsos sekarang, sangat pantas jika pemuda zaman sekarang ini dikatakan sebagai pemuda zaman medsos (media sosial). Hampir setengah hidup pemuda di Kota Malang dalam setiap harinya adalah memperkosa PSK (Pintarnya Smartphone Kini). Kadang kita hanya bisa memberikan sedikit waktu istirahat pada PSK tadi saat sudah lemas dan lunglai tenaganya, lalu lupa untuk membawa charge. Atau mungkin sebaliknya, kita-lah yang hanya diberikan sedikit waktu istirahat oleh sesosok PSK? Memang tidak bisa dipungkiri, setengah hidup dari pemuda zaman medsos ini adalah hidup bersama PSK. Namun perlu untuk diingat – kalau perlu dicatat – bahwa Smartphone belum tentu membuat pemiliknya menjadi smart, jika tidak menghasilkan manfaat kebaikan dalam dirinya.
Karena pergeseran, perubahan, dan perkembangan zaman yang begitu cepat seperti sekarang ini, bisakah kita sebagai pemuda untuk mengikuti jejak para pendiri dan pejuang negara kita dulu? Lalu sampai sekarang selalu ada – menjadi program tahunan resmi – suatu (ke)harus(an) untuk mengenangnya dan memperingatinya. Banyak sekali pertanyaan yang timbul dalam pikiran, sampai-sampai kita bingung dan lupa untuk menjawabnya. Optimalisasi penggunaan PSK itu tadi sebenarnya bisa membuat diri kita lebih bermanfaat dari hari kemarin, jika itu terus istiqomah memanfaatkannya dengan baik. Sampai kita bisa menghasilkan karya-karya yang tidak menyimpang dari nilai-nilai Pancasila, ikut menjaga kelestarian dan kekayaan kekayaan alam (segi geografis), serta membawa kemaslahatan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Akhir dari sebuah dongeng Cak Saidi di atas hanya akan memunculkan beberapa pertanyaan dalam diri, bahwa kita hidup itu tidak akan pernah lepas dari kenangan. Lalu ingin menjadi pribadi yang seperti apakah kita dari hasil kenangan tadi? Apakah kita menjadi pribadi yang ingin selalu mengenang peristiwa? Ataukah mungkin ingin menjadi pribadi yang dikenang sebagai peristiwa karena telah memberi manfaat? Saya rasa itu adalah sebuah pilihan jawaban subjektif yang harus dijalankan oleh masing-masing kita sebagai pemuda/i, bukan malah justru ditinggalkan. Pemuda itu harus peka dalam situasi dan kondisi bangsa saat ini yang minim rasa toleransi. Selamat hari Sumpah Pemuda yang ke-90, Bangun Pemuda, Satukan Indonesia!