Rotating X-Steel Pointer

Saturday, 28 November 2015

UM GAGAL



K
ampus, sebuah tempat dimana mahasiswa memperoleh ilmu. Bukan ilmu yang bersifat akademik saja, akan tetapi ilmu tentang kehidupanpun bias didapatkan di tempat yang namanya kampus.Pada hakekatnya, mahasiswa merupakan agen perubahan bagi masyarakat disekitarnya dan agen control bagi pemerintah. Tetapi hal ini tidak berlaku di Universitas Negeri Malang (UM).
Salah satu PTN ternama di kota Malang ini merupakan kampus yang bias dikatakan telah gagal mendidik mahasiswanya. Dikampus UM hanya diajarkan bagaimana kita menjadi mahasiswa yang akademik saja, mahasiswa yang hanya peduli pada tugasnya akademiknya saja dengan melupakan tugas sebagai agen perubahan serta agen control. Aku pun tidak begitu memahami sejara gamblang terkat hal ini. Saya hanya melihat dari kegiatan ormawa yang ada di kampus UM. Dari semua kegiatan ormawa membuktikan dengan adanya 27 organisasi mahasiswa ditingkatan jurusan, 14 organisasi mahasiswa ditingkatan fakultas dan 2 organisasi ditingkatan uiversitas yang total keseluruhannya ada 43 organisasi kemahasiswaan.
            Dari 43 organisasi tersebut tak satu pun yang pernah mengawal kebijakan dari pemerintah pusat atau pun pemerintah daerah, bahkan yang lebih parah lagi kebijakan dari kampus pun tidak pernah mereka kritisi. Hal ini disebabkan  oleh kampus UM sudah dikonsep sedemikian rupa supaya buta terhadap kebijakan kampus ataupun kebijakan pemerintah. Issue-issue nasional pun mereka tidak pernah mengerti. Yang mereka tau hanya issue tentang selebritis yang tidak jelas arahnya dan saya pikir tidak menunjang bagi perkuliahannya atapun kehidupannya nanti. Padahal hampir semua personil ormawa merupakan mahasiswa yang aktif dalam kegiatan organisasi mahasiswa ekstra kampus. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah mahasiswa yang didelegasikan oleh organnya untuk masuk dalam ormawa merupakan produk gagal dari organnya?. Pastinya tidak, tidak mungkin nrgan akan mendelegasikan kadernya secara asal-asalan. Kader yang ecek-ecek. Berarati ormawa UM ini memang bukanlah tempat yang kondusif bagi mereka. Tapi mengapa ormawa tempat yang sudah tidak layak lagi untuk berproses menjadi bahan rebutan semua organ? Apakah hanya alasan untuk menjaring anggota baru? Apakah hanya mencari eksistensi belaka? Banyak pertanyaan yang belum terjawab.
            UM  hanya mencetak mahasiswa apatis, mahasiswa yang hanya sebagai robot, robot yang diseting untuk menurut pada majikannya. Mahasiswa yang tak pernah peduli terhadap lingkungannya dan juga negaranya. Tak satupun kegiatan dari ormawa yang mengarah pada pemerintah ataupun masyarakat. Kegiatan yang mereka anggap kepedulian paling hanya baksos, dan itupun menurut saya belum bias mengena. Bagaimana tidak, mereka hanya baksos ketempat itu-itu saja. Wilayah Malang Raya saja yang mereka tuju. Itupun wilayah yang sering dijadikan lokasi baksos. Padahal ketika mau untuk membuka mata, banyak daerah-daerah di Malang Raya yang memang membutuhkan bantuan. Kadang saya juga berfikir bahwa yang mereka lakukan bukanlah bakti sosial, akan tetapi lebih tepatnya bantuan sosial. Mereka hanya member barang untuk kehidupan sehari-hari. Bukan itu yang masyarakat butuhkan. Menurut saya, masyarakat butuh perubahan serta kawalan dari mahasiswa untuk kehidupan mereka selanjutnya.
            Dari sedikit uraian diatas, terkadang saya berfikir, apakah ini semua telah mencerminkan dari Tri Dharma PerguruanTinggi?. Jawabannya adalah TIDAK. Tak satupun kegiatan di kampus UM yang mencerminkan Tri Dharma PT. Tri Dharma PT sudah tidak berlaku lagi di kampus yang katanya favorit ini.
            Sampai kapan UM akan terbelenggu dalam situasi yang seperti ini. Bukankah sudah tugas kita semua untuk menyelesaikan masalah yang kronis ini. Saya piker tidak hanya mahasiswa saja yang harus bertanggung jawab, tapi semua civitas akademika harus bertanggung jawab. Tidak akan tercipta dinamika yang bagus dan gerakan massif bagi sebuah kampus tanpa adanya kesadaran bagi semua civitas akademika terkait.


Oleh: Mohammad AinunNajib